Detik-detik Terbunuhnya Umar bin Khattab

Pagi itu di Madinah, kaum Muslimin dikejutkan oleh tragedi yang mengguncang seluruh sendi kekhalifahan Islam. Amirul Mukminin, Umar bin Khattab radhiyallahu anhu, sang pemimpin yang adil dan tegas, ditikam saat memimpin shalat Subuh di Masjid Nabawi pada tahun 23 Hijriah. Peristiwa pilu ini, yang tercatat dalam sejarah Islam, khususnya dalam Al Bidayah Wan Nihayah halaman 181, mengakhiri masa kepemimpinan salah satu khalifah teragung dalam sejarah Islam, meninggalkan luka mendalam dan pelajaran berharga bagi umat hingga akhir zaman. Penikaman ini dilakukan oleh Abu Lu’lu’ah Al-Majusi, seorang budak Persia yang menyimpan dendam.

Data / PeristiwaKeterangan / Fakta
Waktu KejadianPagi hari, saat shalat Subuh
LokasiMasjid Nabawi, Madinah
Korban UtamaUmar bin Khattab (Amirul Mukminin)
PelakuAbu Lu’lu’ah Al-Majusi (Fairuz), budak milik Mughirah bin Syu’bah
Motif PelakuDendam pribadi atas keputusan Umar terkait pajak dan statusnya, serta kebencian terhadap Islam
SenjataBelati bermata dua yang tajam
Kronologi PenikamanSaat Umar mengawali shalat dengan takbir, Abu Lu’lu’ah tiba-tiba menyerang dari barisan shaf
Jumlah TikamanBeberapa tikaman, salah satunya fatal di bagian perut
Reaksi UmarTersungkur namun masih sempat memerintahkan agar shalat dilanjutkan
Pengganti ImamAbdurrahman bin Auf mengambil alih imam shalat
Akhir PelakuAbu Lu’lu’ah melukai beberapa orang lain dan akhirnya bunuh diri dengan belati yang sama
Wafatnya UmarTiga hari setelah penikaman, pada hari Rabu, 26 Dzulhijjah 23 H

Kisah & Atmosfer

Fajar merekah perlahan di ufuk timur Madinah, memancarkan bias cahaya keemasan yang menembus celah-celah pepohonan kurma. Angin pagi yang sejuk berhembus lembut, membawa aroma tanah basah dan ketenangan yang biasa menyelimuti kota Nabi ini. Di dalam Masjid Nabawi, suasana khusyuk telah memenuhi setiap sudut. Barisan shaf shalat Subuh telah terisi rapat, menanti kehadiran imam. Jantung Madinah berdetak dalam irama zikir dan tasbih, seolah tak ada yang mampu mengusik kedamaian itu.

Dari mihrab, sosok tegap Umar bin Khattab radhiyallahu anhu melangkah maju. Cahaya lampu minyak samar-samar menyinari wajahnya yang memancarkan ketenangan dan wibawa. Ia adalah Amirul Mukminin, Al-Faruq, pembeda antara yang hak dan batil, pemimpin yang telah meluaskan panji Islam hingga ke Persia dan Romawi. Setiap langkahnya dipenuhi tanggung jawab besar terhadap umat yang dipimpinnya. Dengan suara yang mantap dan khusyuk, beliau mengucapkan takbiratul ihram, "Allahu Akbar!"

Jamaah pun mengikuti, tenggelam dalam keheningan yang syahdu, bersiap untuk menghadap Rabb semesta alam. Namun, kedamaian itu pecah dalam sekejap.

Tiba-tiba, dari balik shaf terdepan, sesosok bayangan hitam melesat maju. Abu Lu’lu’ah Al-Majusi, seorang budak Persia yang telah lama menyimpan bara dendam di hatinya, bergerak dengan kecepatan mematikan. Di tangannya, sebilah belati bermata dua berkilat-kilat, memantulkan cahaya redup. Tanpa ampun, ia menghujamkan belati itu ke tubuh Umar bin Khattab yang sedang berdiri dalam shalatnya. Satu, dua, tiga kali tikaman. Jeritan pilu dan teriakan kaget menggema di dalam masjid, memecah kesunyian pagi yang sakral.

Umar tersungkur, darah segar membasahi pakaiannya dan lantai masjid yang suci. Rasa sakit yang luar biasa menghantamnya, namun di tengah deraan maut, ia tidak melupakan shalatnya. Dengan suara yang terengah-engah, beliau berbisik, "Teruskan shalat!" Ini adalah bukti keimanan dan tanggung jawabnya yang tak pernah pudar, bahkan di ambang kematian.

Kekacauan pecah. Beberapa sahabat berusaha menangkap Abu Lu’lu’ah. Dalam kegilaannya, si penikam itu melukai belasan jamaah lain yang mencoba menghalanginya, hingga akhirnya ia terdesak dan bunuh diri dengan belati yang sama. Sementara itu, Abdurrahman bin Auf dengan sigap maju ke mihrab, menyelesaikan shalat Subuh yang terhenti, sementara Umar terbaring lemah.

Umar segera dibawa pulang ke rumahnya. Para tabib dipanggil, namun luka di perutnya terlalu parah. Darah terus mengucur, dan setiap kali ia minum susu, susu itu keluar kembali dari luka tikamannya. Para sahabat berkumpul, wajah mereka dipenuhi kesedihan yang mendalam. Mereka tahu, kepergian Umar adalah kehilangan yang tak tergantikan bagi umat.

Dalam detik-detik terakhirnya, Umar masih memikirkan umat. Ia memanggil putranya, Abdullah, dan berpesan tentang utang-utangnya. Ia meminta agar jenazahnya dimakamkan di samping makam Rasulullah SAW dan Abu Bakar, jika Aisyah mengizinkan. Sebuah permintaan yang menunjukkan kerendahan hati dan kecintaannya kepada Nabi dan sahabatnya. Al Bidayah Wan Nihayah halaman 181 menggambarkan detail-detail ini dengan kesedihan yang mendalam, mencatat bagaimana umat berduka atas kepergian sang pemimpin yang tak tergantikan.

Tiga hari setelah penikaman, pada hari Rabu, 26 Dzulhijjah tahun 23 Hijriah, ruh suci Umar bin Khattab meninggalkan jasadnya. Madinah diselimuti duka yang teramat dalam. Tangisan pilu mengiringi kepergiannya, mengantar sang Amirul Mukminin kembali kepada Rabb-nya. Sejarah mencatat, kepergian Umar adalah salah satu momen paling menyedihkan dalam sejarah Islam, menandai berakhirnya era keemasan kepemimpinan yang adil dan berani.

Jejak Saat Ini

Masjid Nabawi, tempat terjadinya tragedi yang mengguncang ini, kini telah bertransformasi menjadi salah satu masjid termegah dan tersuci di dunia. Area mihrab tempat Umar bin Khattab memimpin shalat dan ditikam telah menjadi bagian dari perluasan masjid yang masif. Meskipun tidak ada tanda khusus yang menandai persis lokasi penikaman, seluruh area Masjid Nabawi, terutama Raudhah Syarifah, adalah saksi bisu peristiwa besar dalam sejarah Islam.

Bagi jamaah haji dan umrah yang berkunjung ke Madinah, ziarah ke makam Rasulullah SAW adalah salah satu momen paling mengharukan. Di sana, di dalam kamar yang mulia, bersemayam jasad mulia Nabi Muhammad SAW, ditemani oleh dua sahabat terdekatnya: Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab radhiyallahu anhuma. Makam Umar terletak di samping makam Abu Bakar, dekat dengan makam Rasulullah SAW, sebuah kehormatan yang diberikan atas kesetiaan dan pengorbanan beliau.

Ketika berada di Raudhah dan menyampaikan salam kepada Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar, jamaah dapat merasakan kedekatan dengan sejarah agung ini. Area ini selalu ramai, namun dengan sedikit kesabaran dan keikhlasan, jamaah bisa mendapatkan kesempatan untuk berdiri di dekat makam mereka yang mulia.

Tips bagi jamaah:

  • Berusahalah untuk shalat di Raudhah Syarifah (area hijau di dalam Masjid Nabawi) dan manfaatkan waktu untuk berdoa serta berzikir.
  • Saat ziarah ke makam Rasulullah dan dua sahabatnya, ucapkan salam dengan adab dan penuh penghormatan. Ingatlah jasa-jasa besar mereka dalam menyebarkan dan menegakkan agama Islam.
  • Renungkanlah peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di Masjid Nabawi, termasuk wafatnya Umar, sebagai pengingat akan perjuangan dan pengorbanan generasi awal Islam.
  • Perhatikan adab di dalam masjid, jaga ketenangan, dan hindari kerumunan yang berlebihan di sekitar makam.

Hikmah & Ibrah

Kisah wafatnya Umar bin Khattab adalah sebuah pengingat yang menyentuh hati tentang kerapuhan hidup, bahkan bagi sosok sekuat dan seadil beliau. Ini mengajarkan kita bahwa kekuasaan, kekuatan, dan keadilan sekalipun tidak dapat menjamin seseorang dari takdir ilahi. Kematian adalah sebuah kepastian yang akan menjemput setiap jiwa, tanpa pandang bulu.

Dari detik-detik terakhir Umar, kita belajar tentang prioritas seorang mukmin sejati. Di ambang maut, perhatian beliau tetap tertuju pada shalat, pada kelanjutan ibadah umat. Ini adalah pelajaran tentang betapa pentingnya shalat dalam hidup seorang Muslim, yang bahkan dalam kondisi paling genting sekalipun, tidak boleh ditinggalkan.

Kehidupan Umar adalah teladan keadilan, ketegasan, dan ketaqwaan. Beliau adalah pemimpin yang tidak pernah lelah mengemban amanah, yang selalu mendahulukan kepentingan umat di atas kepentingan pribadinya. Wafatnya di tangan seorang yang membenci Islam juga mengingatkan kita akan adanya permusuhan yang selalu mengintai, dan pentingnya persatuan umat dalam menghadapi tantangan.

Kisah ini juga mengajarkan kita tentang kerendahan hati. Permintaan Umar untuk dimakamkan di samping Nabi SAW dan Abu Bakar menunjukkan betapa beliau merasa kecil di hadapan keagungan mereka, meskipun beliau sendiri adalah salah satu pilar utama Islam. Air mata yang mengalir saat merenungkan kisah ini adalah air mata penghormatan kepada seorang pahlawan Islam, dan air mata perenungan akan kehidupan kita sendiri. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari keteladanan beliau, meneladani keadilannya, keberaniannya, dan ketakwaannya dalam setiap langkah hidup.

Penutup & Doa

Kisah Subuh berdarah di Madinah itu akan selamanya terukir dalam lembaran sejarah, menjadi saksi bisu kepergian seorang raksasa Islam. Umar bin Khattab telah pergi, namun warisannya, keadilannya, dan semangat juangnya terus hidup, menginspirasi jutaan hati. Semoga Allah SWT merahmati Amirul Mukminin Umar bin Khattab dengan rahmat yang luas, menempatkannya di tempat tertinggi di sisi-Nya bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Semoga kita semua, sebagai umatnya, mampu meneladani jejak langkahnya, menegakkan kebenaran, dan menjaga amanah Islam hingga akhir hayat. Aamiin ya Rabbal Alamin.

Rindu Baitullah? Wujudkan Bersama Kami

Kami siap mendampingi perjalanan ibadah Anda dengan bimbingan penuh dan fasilitas nyaman, agar Anda bisa fokus bermunajat dan beribadah.

Leave a Comment