
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Saudaraku jamaah Haji dan Umrah yang dirahmati Allah SWT,
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang telah menganugerahkan kita kesempatan dan niat suci untuk menunaikan ibadah Haji atau Umrah. Ini adalah perjalanan spiritual yang agung, impian setiap Muslim, sebuah panggilan yang menggetarkan jiwa. Namun, kemuliaan ibadah ini juga menuntut kita untuk melaksanakannya dengan benar, sesuai tuntunan syariat dan sunnah Rasulullah SAW.
Sebagai pembimbing yang telah membersamai ribuan jamaah, saya sering menyaksikan berbagai dinamika di Tanah Suci. Ada kebahagiaan, kekhusyukan, namun tak jarang pula kekhawatiran akibat kekeliruan dalam pelaksanaan ibadah. Salah satu kekeliruan fatal yang sering terjadi, dan berpotensi membatalkan seluruh rangkaian ibadah Sa’i Anda, bahkan Umrah atau Haji secara keseluruhan, adalah memulai Sa’i dari Bukit Marwa.
Mari kita selami lebih dalam mengapa kesalahan ini begitu krusial, bagaimana hukumnya dalam fiqh, dan solusi praktis agar ibadah Anda diterima sempurna di sisi Allah SWT.
Mengapa Sa’i Begitu Penting? Memahami Kedudukannya dalam Ibadah
Sa’i adalah salah satu rukun penting dalam ibadah Haji dan Umrah. Ia adalah napak tilas perjuangan Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim AS, yang berlari-lari kecil antara Bukit Safa dan Marwa untuk mencari air bagi putranya, Ismail AS, yang kehausan. Allah SWT mengabadikan perjuangan ini sebagai bagian dari syiar-Nya yang wajib kita teladani.
Sa’i: Rukun atau Wajib? Memahami Kedudukannya
Dalam fiqh Islam, rukun adalah bagian esensial dari ibadah yang jika ditinggalkan, baik sengaja maupun tidak, akan menyebabkan ibadah tersebut batal dan tidak sah. Sementara wajib adalah bagian yang jika ditinggalkan, ibadah tetap sah namun pelakunya berdosa dan wajib membayar dam (denda).
Mayoritas ulama, termasuk Imam Syafi’i, Imam Malik, dan Imam Ahmad bin Hanbal, sepakat bahwa Sa’i adalah rukun Haji dan Umrah. Artinya, jika Sa’i tidak dilaksanakan atau dilaksanakan dengan cara yang salah sehingga tidak sah, maka Haji atau Umrah seseorang dianggap batal atau tidak sempurna.
Dalil dari Al-Qur’an:
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 158:
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ
Artinya: “Sesungguhnya Safa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar (tanda kebesaran) Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.”
Ayat ini menunjukkan bahwa Sa’i antara Safa dan Marwa adalah bagian dari syiar Allah yang harus dilakukan. Meskipun ayat ini menggunakan frasa “tidak ada dosa baginya”, namun para ulama menafsirkannya sebagai penegasan kebolehan dan keharusan, menepis anggapan jahiliyah yang menganggap Sa’i adalah perbuatan dosa karena adanya patung-patung di sana.
Meneladani Jejak Hajar dan Rasulullah SAW
Sa’i bukan sekadar ritual fisik, melainkan penghayatan atas keteguhan iman dan tawakal Siti Hajar. Kita diajarkan tentang kesabaran, usaha maksimal, dan keyakinan penuh kepada pertolongan Allah.
Rasulullah SAW sendiri melaksanakan Sa’i dengan sempurna, dan beliau bersabda:
خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ
Artinya: “Ambillah dariku manasik (cara-cara ibadah) kalian.” (HR. Muslim)
Sabda ini menjadi landasan utama bagi kita untuk mengikuti setiap detail tata cara ibadah sesuai yang dicontohkan beliau, termasuk urutan Sa’i.
Kesalahan Fatal: Memulai Sa’i dari Bukit Marwa
Inilah inti permasalahan yang seringkali terlewatkan oleh sebagian jamaah. Di tengah hiruk-pikuk dan kelelahan setelah tawaf, atau karena kurangnya pemahaman, beberapa jamaah bisa salah memulai Sa’i.
Dalil Tegas: Safa Adalah Titik Awal
Rasulullah SAW memulai Sa’i dari Bukit Safa. Ini adalah fakta yang diriwayatkan secara mutawatir (banyak jalur periwayatan) dan menjadi ijma’ (konsensus) para ulama.
Dalil dari Hadits:
Dalam Hadits Jabir bin Abdullah yang panjang tentang Haji Wada’ (Haji Perpisahan) Rasulullah SAW, disebutkan:
“Kemudian beliau keluar melalui pintu Safa, ketika mendekati Safa beliau membaca:
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ اللَّهِ (QS. Al-Baqarah: 158).
Aku memulai dengan apa yang Allah mulai (yaitu Safa).
Maka beliau memulai dari Safa dan naik ke atasnya sehingga melihat Ka’bah, lalu menghadap kiblat…” (HR. Muslim)
Hadits ini secara eksplisit menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW memulai Sa’i dari Safa, dan beliau sendiri menegaskan, “Aku memulai dengan apa yang Allah mulai.” Ini adalah petunjuk yang sangat jelas dan tidak bisa ditawar lagi.
Konsekuensi Hukum: Antara Batal dan Tidak Sah
Jika seseorang memulai Sa’i dari Bukit Marwa, maka putaran pertama (dari Marwa ke Safa) tidak dihitung sebagai putaran Sa’i yang sah. Mengapa? Karena ia bertentangan langsung dengan sunnah Nabi SAW dan dalil Al-Qur’an yang secara tersirat mengisyaratkan Safa sebagai permulaan.
Implikasinya:
- Putaran Pertama Tidak Sah: Putaran dari Marwa ke Safa tidak dianggap sah. Sa’i yang sebenarnya baru dimulai ketika jamaah tiba di Safa dan bergerak menuju Marwa.
- Jumlah Putaran Kurang: Jika seseorang melakukan 7 putaran, tetapi putaran pertamanya dari Marwa ke Safa, maka ia sebenarnya hanya melakukan 6 putaran Sa’i yang sah (yaitu 6 putaran penuh dari Safa ke Marwa dan kembali ke Safa).
- Rukun Tidak Sempurna: Karena Sa’i adalah rukun, kekurangan satu putaran saja berarti rukun tersebut tidak terpenuhi secara sempurna. Ini bisa menyebabkan Haji atau Umrahnya batal total jika tidak diperbaiki.
Bayangkan, Anda sudah mengeluarkan biaya besar, tenaga, dan waktu, namun ibadah Anda tidak sah hanya karena kesalahan fatal di awal Sa’i. Ini adalah kerugian yang amat besar di sisi Allah SWT.
Memahami Urutan Sa’i yang Benar
Untuk menghindari kesalahan fatal ini, sangat penting bagi setiap jamaah untuk memahami urutan Sa’i yang benar dan menghitungnya dengan cermat.
Langkah Demi Langkah: Dari Safa ke Marwa, dan Seterusnya
- Niat Sa’i: Setelah selesai tawaf dan shalat sunnah di Maqam Ibrahim, niatkan Sa’i di dalam hati.
- Menuju Bukit Safa: Pergilah ke Bukit Safa. Jika memungkinkan, naiklah sedikit ke atas bukit agar bisa melihat Ka’bah (meskipun saat ini seringkali terhalang bangunan).
- Putaran Pertama (Safa ke Marwa):
- Dari Safa, menghadap Ka’bah, angkat tangan seperti berdoa, membaca takbir dan tahlil, serta berdoa.
- Kemudian, mulailah berjalan menuju Bukit Marwa.
- Ketika sampai di pilar hijau (lampu hijau) pertama, bagi laki-laki disunnahkan untuk berlari-lari kecil (ramal) hingga pilar hijau berikutnya. Wanita cukup berjalan biasa.
- Terus berjalan hingga sampai di Bukit Marwa.
- Naik sedikit ke Marwa, menghadap Ka’bah, angkat tangan seperti berdoa, membaca takbir dan tahlil, serta berdoa.
- Ini dihitung 1 putaran.
- Putaran Kedua (Marwa ke Safa):
- Dari Marwa, mulailah berjalan kembali menuju Bukit Safa.
- Lakukan ramal (lari-lari kecil) di antara dua pilar hijau bagi laki-laki.
- Sampai di Safa, menghadap Ka’bah, berdoa.
- Ini dihitung 2 putaran.
- Lanjutkan Hingga 7 Putaran: Teruslah bolak-balik antara Safa dan Marwa dengan cara yang sama.
- Safa ke Marwa: ganjil (1, 3, 5, 7)
- Marwa ke Safa: genap (2, 4, 6)
Jumlah Putaran dan Cara Menghitungnya
Sa’i dilakukan sebanyak 7 putaran.
- Dimulai dari Safa dan berakhir di Marwa.
- Putaran ke-1: Safa ke Marwa
- Putaran ke-2: Marwa ke Safa
- Putaran ke-3: Safa ke Marwa
- Putaran ke-4: Marwa ke Safa
- Putaran ke-5: Safa ke Marwa
- Putaran ke-6: Marwa ke Safa
- Putaran ke-7: Safa ke Marwa
Setelah putaran ketujuh, Anda akan berada di Bukit Marwa, dan Sa’i Anda telah selesai. Setelah itu, jamaah laki-laki diwajibkan tahallul (mencukur gundul atau memotong rambut pendek), sedangkan wanita cukup memotong sedikit ujung rambutnya.
Perspektif Fiqh: Mengapa Urutan Ini Mutlak?
Dalam ilmu fiqh, ada prinsip bahwa ibadah yang bersifat ta’abbudi (perintah yang harus diikuti tanpa banyak pertanyaan tentang alasannya) harus dilaksanakan persis seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Sa’i adalah salah satu ibadah ta’abbudi.
Ijma’ Ulama dan Sunnah Qauliyah-Fi’liyah
Seperti yang telah disebutkan, seluruh ulama dari berbagai mazhab sepakat (ijma’) bahwa Sa’i harus dimulai dari Safa dan berakhir di Marwa. Kesepakatan ini didasarkan pada:
- Sunnah Qauliyah (Perkataan Nabi): Sabda Nabi SAW, “Aku memulai dengan apa yang Allah mulai,” merujuk pada ayat Al-Baqarah 158 yang menyebut Safa terlebih dahulu.
- Sunnah Fi’liyah (Perbuatan Nabi): Nabi SAW secara konsisten memulai Sa’i dari Safa dalam setiap kesempatan beliau berhaji atau berumrah. Tindakan beliau adalah contoh dan hukum bagi umatnya.
Melanggar urutan ini berarti melanggar perintah dan contoh Rasulullah SAW, yang pada akhirnya dapat merusak keabsahan ibadah.
Hikmah di Balik Urutan
Meskipun Sa’i adalah ibadah ta’abbudi, kita tetap bisa merenungkan beberapa hikmah di balik urutan ini:
- Penegasan Ketaatan: Urutan ini menguji ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Kita mengikuti tanpa mempertanyakan, murni karena perintah.
- Simbolisme Sejarah: Memulai dari Safa adalah penghormatan terhadap titik awal perjuangan Siti Hajar. Ini menjaga keaslian napak tilas sejarah.
- Kesempurnaan Ritual: Setiap ritual dalam Islam memiliki urutan dan tata cara yang sempurna. Mengubahnya berarti merusak kesempurnaan tersebut.
Solusi Praktis dan Bimbingan Bagi Jamaah
Mengingat beratnya konsekuensi kesalahan ini, saya ingin memberikan beberapa solusi praktis dan bimbingan agar Anda terhindar dari kekeliruan fatal tersebut.
Pencegahan Terbaik: Persiapan Matang Sebelum Berangkat
- Ikuti Manasik Haji/Umrah dengan Serius: Ini adalah pondasi utama. Jangan remehkan manasik. Catat, tanyakan, dan pahami setiap detailnya.
- Baca Buku Panduan: Miliki buku panduan Haji/Umrah yang terpercaya dan baca berulang kali. Tandai bagian-bagian penting seperti Sa’i.
- Tonton Video Simulasi: Banyak video simulasi manasik di YouTube yang bisa membantu Anda memvisualisasikan proses Sa’i.
- Hafalkan Urutan dan Doa: Meskipun doa bisa dibaca dari buku, menghafal urutan Sa’i akan sangat membantu.
- Diskusi dengan Pembimbing: Jangan sungkan bertanya kepada pembimbing Anda tentang hal-hal yang kurang jelas.
- Istirahat Cukup: Kelelahan setelah tawaf bisa membuat konsentrasi menurun. Pastikan Anda cukup istirahat sebelum memulai Sa’i.
Jika Terlanjur Salah: Apa yang Harus Dilakukan?
Katakanlah, karena ketidaktahuan atau kekhilafan, Anda terlanjur memulai Sa’i dari Marwa. Apa yang harus dilakukan?
- Segera Sadari Kesalahan: Jika Anda menyadari kesalahan ini saat sedang melakukan Sa’i (misalnya, setelah putaran pertama dari Marwa ke Safa), maka putaran pertama itu dianggap tidak sah.
- Anda harus kembali ke Bukit Safa dan memulai putaran pertama yang sah dari Safa ke Marwa.
- Setelah itu, lanjutkan Sa’i hingga genap 7 putaran, yang berarti Anda akan berakhir di Marwa.
- Total putaran yang Anda lakukan mungkin lebih dari 7, tetapi yang dihitung sah adalah 7 putaran yang dimulai dari Safa.
- Jika Sudah Selesai dan Tahallul: Ini adalah skenario yang lebih rumit dan serius. Jika Anda sudah menyelesaikan 7 putaran (yang sebenarnya hanya 6 putaran sah) dan sudah melakukan tahallul (cukur/potong rambut), maka:
- Umrah Anda belum sah (masih dalam keadaan ihram). Anda wajib mengulang Sa’i dari awal (dari Safa) dengan niat yang benar.
- Selama belum mengulang Sa’i, Anda masih terikat dengan larangan-larangan ihram.
- Jika Anda sudah pulang ke tanah air dan baru menyadari kesalahan ini, maka Anda wajib kembali ke Mekah untuk menyelesaikan Sa’i yang belum sah tersebut. Jika tidak mampu, maka Anda harus membayar dam (denda) dan mengulang Umrah di lain waktu jika memungkinkan.
- Penting: Segera konsultasikan dengan ulama atau pembimbing fiqh yang terpercaya untuk mendapatkan fatwa yang tepat sesuai kondisi Anda. Jangan menunda-nunda!
Peran Pembimbing dan Teknologi Modern
- Pembimbing Kelompok: Pastikan Anda selalu berada di dekat pembimbing kelompok Anda saat melakukan Sa’i. Mereka akan memimpin dan mengingatkan Anda.
- Aplikasi Haji/Umrah: Manfaatkan aplikasi di smartphone yang bisa membantu menghitung putaran Sa’i dan memberikan panduan doa. Namun, tetap jadikan panduan manusia sebagai prioritas.
- Tanda-tanda di Lokasi: Perhatikan papan petunjuk atau tanda-tanda di sekitar Safa dan Marwa yang menunjukkan arah dan titik awal/akhir.
Penutup: Kehati-hatian adalah Kunci Ibadah Mabrur
Saudaraku yang dimuliakan Allah,
Melaksanakan ibadah Haji dan Umrah adalah anugerah tak ternilai. Jangan sampai anugerah ini ternoda oleh kekeliruan yang sebenarnya bisa dihindari. Kehati-hatian, ketelitian, dan persiapan yang matang adalah kunci utama untuk meraih ibadah yang mabrur, yang diterima di sisi Allah SWT.
Ingatlah selalu, Sa’i harus dimulai dari Bukit Safa dan berakhir di Bukit Marwa, sebanyak 7 putaran. Ikuti setiap langkah sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Jika ragu, segera bertanya. Jika khilaf, segera perbaiki.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita semua dalam setiap langkah ibadah, menjadikan Haji dan Umrah kita diterima, dan mengampuni segala kekhilafan kita. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
