Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Alhamdulillahil ladzi hadana lihadza wama kunna linahtadiya laula an hadanallah.
Segala puji hanya milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dzat yang telah mempertemukan kita kembali dengan bulan yang penuh berkah, bulan Ramadhan yang mulia. Bulan di mana pintu-pintu surga dibuka lebar, pintu-pintu neraka ditutup rapat, dan setan-setan dibelenggu.
Kita panjatkan syukur yang tak terhingga atas nikmat iman dan Islam, serta kesehatan yang masih Allah anugerahkan kepada kita, sehingga kita bisa berkumpul di majelis ilmu yang penuh rahmat ini.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada junjungan kita, teladan terbaik sepanjang masa, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman. Semoga kita semua termasuk umat yang kelak mendapatkan syafaat beliau di hari kiamat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Hadirin Jamaah Rahimakumullah, Kaum Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala,
Betapa indahnya Ramadhan ini, bukan? Sebuah kesempatan emas untuk kita membersihkan diri, meningkatkan ketakwaan, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga dari fajar hingga senja. Lebih dari itu, puasa adalah madrasah, sekolah kehidupan yang melatih kita untuk mengendalikan diri dari segala nafsu, termasuk salah satu yang paling sulit kita jinakkan: amarah.
Seringkali kita mendengar, "Aduh, puasa-puasa kok emosi!" atau "Lagi puasa nih, jangan mancing-mancing amarah!" Kalimat-kalimat ini menunjukkan bahwa amarah adalah ujian besar, apalagi di saat berpuasa. Nah, pada kesempatan yang mulia ini, mari kita sama-sama merenungkan, bagaimana menahan amarah saat berpuasa bisa menjadi kunci sukses pengendalian diri kita.
Mari kita bahas dalam tiga poin utama yang Insya Allah mudah kita pahami dan amalkan.
1. Puasa Adalah Perisai dari Amarah
Hadirin yang dirahmati Allah,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala mewajibkan kita berpuasa agar kita menjadi orang yang bertakwa. Takwa itu luas maknanya, salah satunya adalah kemampuan mengendalikan diri, termasuk mengendalikan amarah. Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
"Puasa adalah perisai. Maka apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa, janganlah dia berkata kotor dan janganlah berbuat kefasikan. Apabila ada seseorang yang mencaci-makinya atau memeranginya, hendaklah dia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa’."
Lihatlah, Bapak/Ibu sekalian. Nabi kita dengan tegas mengajarkan, saat ada yang memprovokasi, mencaci, bahkan mengajak berkelahi, jawaban kita sederhana: "Aku sedang berpuasa." Ini bukan berarti kita sombong atau pamer, melainkan sebuah pengingat bagi diri sendiri dan orang lain bahwa kita sedang dalam ibadah yang mulia, yang menuntut kesabaran ekstra.
Puasa itu seperti "tameng" yang melindungi kita dari panasnya amarah. Dengan puasa, kita dilatih untuk menunda keinginan, menahan hawa nafsu, dan bersabar. Jika kita bisa menahan lapar dan haus yang begitu mendasar, mengapa kita tidak bisa menahan gejolak emosi yang sifatnya lebih kejiwaan? Ini adalah latihan mental yang luar biasa.
2. Keutamaan dan Ganjaran Bagi Penahan Amarah
Jamaah sekalian yang Insya Allah diberkahi Allah,
Islam sangat memuliakan orang-orang yang mampu menahan amarahnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 134, yang artinya:
"Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan."
Subhanallah! Orang yang mampu menahan amarah itu digolongkan sebagai orang yang bertakwa dan dicintai Allah. Bahkan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, bukan orang kuat yang jago gulat atau berkelahi, tapi orang kuat itu adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah. (HR. Bukhari dan Muslim).
Saya teringat sebuah kisah singkat.
Dahulu kala, ada seorang sahabat Nabi yang terkenal dengan kekuatan fisiknya. Suatu hari, ia merasa sangat kesal dengan perkataan seseorang yang menyakitinya. Amarahnya memuncak, dan ia sudah siap untuk meluapkan kemarahannya. Namun, tiba-tiba ia teringat sabda Nabi: "Barangsiapa menahan amarahnya padahal ia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya di hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk, lalu menyuruhnya memilih bidadari mana saja yang ia inginkan."
Mendengar itu, seketika amarahnya sirna, ia menundukkan kepala, dan memilih untuk memaafkan. Ia sadar, ganjaran dari Allah jauh lebih berharga daripada kepuasan sesaat melampiaskan amarah.
Ini pelajaran berharga bagi kita. Setiap kali amarah itu datang, ingatlah janji Allah dan Rasul-Nya. Ingatlah bahwa ada balasan yang jauh lebih indah bagi mereka yang sabar dan pemaaf.
3. Tips Praktis Mengendalikan Amarah di Bulan Ramadhan
Bapak, Ibu, Saudara/i sekalian yang saya cintai karena Allah,
Lalu, bagaimana praktiknya? Apa yang bisa kita lakukan saat amarah itu mulai membakar hati kita, apalagi di bulan puasa?
Pertama, Segera Ubah Posisi.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Apabila salah seorang di antara kalian marah, dan dia dalam keadaan berdiri, hendaklah dia duduk. Jika amarahnya belum reda, hendaklah dia berbaring." (HR. Abu Dawud). Perubahan posisi ini secara psikologis bisa membantu menenangkan diri.
Kedua, Berwudhu.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya amarah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api hanya bisa dipadamkan dengan air. Maka jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia berwudhu." (HR. Abu Dawud). Air wudhu tidak hanya membersihkan fisik, tapi juga menenangkan jiwa.
Ketiga, Diam.
Seringkali, ucapan saat marah justru memperkeruh suasana dan memperbesar masalah. Nabi bersabda: "Jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia diam." (HR. Ahmad). Diam memberi kita waktu untuk berpikir jernih sebelum bertindak atau berucap.
Keempat, Ingatlah Tujuan Puasa Kita.
Puasa ini adalah investasi akhirat. Apakah kita rela pahala puasa kita berkurang atau bahkan hilang hanya karena satu letupan amarah yang sesaat? Ingatlah, puasa bukan hanya menahan makan minum, tapi juga menahan diri dari hal-hal yang mengurangi nilai pahala kita.
Hadirin Jamaah Rahimakumullah,
Mari kita renungkan sejenak. Berapa banyak kebaikan yang telah kita lakukan, shalat kita, tilawah kita, sedekah kita, namun terkadang, satu ledakan amarah saja bisa menghapus semua itu, atau setidaknya mengurangi keberkahannya.
Ramadhan ini adalah kesempatan terbaik untuk kita melatih otot-otot kesabaran kita. Jadikan setiap provokasi, setiap perkataan yang menyakitkan, setiap situasi yang memancing amarah, sebagai ujian yang akan meningkatkan derajat kita di sisi Allah, bukan justru menjatuhkan kita.
Jangan biarkan amarah merenggut ketenangan hati kita, jangan biarkan ia memudarkan cahaya Ramadhan dalam jiwa kita. Kendalikanlah ia, karena dengan mengendalikannya, kita sesungguhnya sedang menguasai diri kita sendiri, dan itulah kunci sukses sejati.
Ya Allah, ya Rabbana,
Izinkan kami menutup kultum singkat ini dengan doa.
Ya Allah, Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Ampunilah segala dosa dan kesalahan kami, dosa-dosa kedua orang tua kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum muslimin dan muslimat.
Ya Allah, Yang Maha Membolak-balikkan hati,
Mantapkanlah hati kami dalam iman dan Islam. Jadikanlah kami hamba-Mu yang sabar, yang mampu menahan amarah, yang lapang dada, dan pemaaf.
Ya Allah, Dzat Yang Maha Memberi Petunjuk,
Bimbinglah kami agar senantiasa berada di jalan yang Engkau ridhai. Jadikanlah puasa kami ini sebagai puasa yang Engkau terima, yang mampu membersihkan hati dan jiwa kami.
Ya Allah, mudahkanlah kami untuk menjadi pribadi yang lebih baik di bulan Ramadhan ini dan seterusnya.
Rabbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina adzaban naar.
Subhana Rabbika Rabbil ‘izzati ‘amma yashifun, wa salamun ‘alal mursalin, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
