Jauh sebelum fajar Islam menyingsing, di lembah kering Mekkah yang sakral, sebuah ikrar suci pernah diucapkan, mengikat takdir seorang kakek dengan putranya yang paling dicintai. Abdul Muthalib, pemimpin Bani Hasyim yang dihormati, pernah bernazar kepada Yang Maha Kuasa bahwa jika dianugerahi sepuluh putra yang tumbuh dewasa dan melindunginya, ia akan mengurbankan salah satu dari mereka di sisi Ka’bah. Peristiwa dramatis ini, yang menguji iman dan ketulusan hati, berakhir dengan penggantian tebusan seratus ekor unta untuk nyawa Abdullah, putra beliau yang kelak menjadi ayahanda Nabi Muhammad ﷺ. Kisah penuh hikmah ini terabadikan dalam lembaran sejarah, khususnya dalam Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam.
| Data / Peristiwa | Keterangan / Fakta |
|---|---|
| Nazar Abdul Muthalib | Berjanji mengurbankan satu putra jika dianugerahi 10 putra yang dewasa dan melindunginya. |
| Jumlah Putra | Allah mengaruniakan 10 putra, termasuk Abdullah, yang termuda dan paling tampan. |
| Proses Undian | Menggunakan anak panah (azlam) yang diletakkan di dekat berhala Hubal di dalam Ka’bah. |
| Hasil Undian Awal | Anak panah secara berulang kali menunjuk nama Abdullah, putra kesayangan Abdul Muthalib. |
| Tebusan Awal | Undian diulang dengan penambahan tebusan 10 ekor unta setiap kali nama Abdullah muncul. |
| Pengulangan Undian | Undian diulang beberapa kali, dimulai dari 10 unta, lalu 20, 30, dan seterusnya. |
| Hasil Akhir | Undian berhenti ketika anak panah menunjuk "unta" setelah mencapai jumlah 100 ekor unta. |
| Penyembelihan | 100 ekor unta disembelih di sisi Ka’bah sebagai fidyah (tebusan) atas nyawa Abdullah. |
| Dampak Historis | Menetapkan harga darah (diyah) seorang manusia dalam tradisi Quraisy setara 100 ekor unta. |
Ketika Takdir Menguji Ikrar Suci di Batas Ka’bah
Matahari Mekkah kala itu menyengat, memancarkan pijar keemasan di atas bebatuan gurun yang tandus. Udara bergetar oleh panas, namun di sekitar Ka’bah, jantung-jantung berdebar lebih kencang oleh ketegangan yang mencekam. Abdul Muthalib, dengan sorot mata yang sarat beban, berdiri tegak di hadapan kerumunan suku Quraisy. Di sampingnya, berdiri Abdullah, putranya yang paling tampan dan cerah, yang kelak akan menjadi ayah dari Sang Penutup Para Nabi. Wajah Abdullah memancarkan ketenangan, namun di balik itu, tak ada yang tahu gejolak apa yang bergolak dalam dirinya.
Puluhan tahun sebelumnya, saat Abdul Muthalib masih merindukan keturunan laki-laki yang akan menjadi penopangnya, ia pernah bersumpah di hadapan Ka’bah. "Jika Allah memberiku sepuluh putra yang tumbuh dewasa dan melindungiku," bisiknya kala itu, "aku akan mengurbankan salah satu dari mereka untuk-Mu." Kini, nazarnya telah terpenuhi. Sepuluh putra perkasa telah mendampinginya, dan tibalah saatnya untuk menunaikan janji yang teramat berat itu.
Dengan tangan gemetar, Abdul Muthalib mendekati juru ramal yang memegang anak panah (azlam) di dekat berhala Hubal, yang menjadi pusat pemujaan kaum Quraisy. Ini adalah cara mereka mencari keputusan ilahi dalam perkara-perkara besar. Nama-nama sepuluh putranya telah dituliskan pada anak panah, dan satu anak panah lagi bertuliskan "unta". Juru ramal memejamkan mata, mengocok anak panah, lalu menariknya keluar. Seluruh pandangan tertuju padanya.
Detik-detik terasa abadi. Ketika anak panah pertama ditarik, sebuah nama terbaca jelas: Abdullah. Desahan tertahan terdengar dari kerumunan. Abdul Muthalib memucat, namun tekadnya tak goyah. Ia telah berjanji. "Ulangi!" perintahnya, suaranya parau.
Undian diulang. Sekali lagi, nama Abdullah muncul. Wajah Abdul Muthalib kini keruh, hatinya tercabik. Abdullah adalah permata hatinya, putra yang paling dicintai, yang kecantikannya memukau setiap mata. Bagaimana mungkin ia harus mengurbankan darah dagingnya sendiri? Namun, janji adalah janji.
Para tetua Quraisy mulai cemas. Mereka menghormati Abdul Muthalib, dan mereka tahu betapa berharganya Abdullah. Mereka menyarankan agar tebusan diusulkan. "Tambahkan sepuluh ekor unta sebagai tebusan, lalu ulangi undiannya," usul salah seorang. Abdul Muthalib menyetujui. Sepuluh unta disiapkan, undian diulang.
Namun, kehendak takdir seolah tak tergoyahkan. Anak panah kembali menunjuk Abdullah.
Ketegangan mencapai puncaknya. Wajah Abdul Muthalib kini basah oleh air mata, namun ia tetap teguh. Ia memerintahkan untuk menambah sepuluh unta lagi, menjadikan total dua puluh. Undian diulang. Dan lagi, Abdullah.
Proses ini terus berulang, dengan penambahan sepuluh ekor unta setiap kali anak panah menunjuk Abdullah. Dua puluh, tiga puluh, empat puluh, hingga sembilan puluh unta. Setiap kali, harapan Abdul Muthalib melambung, lalu hancur berkeping-keping. Mekkah seolah menahan napas, menyaksikan drama yang menguras emosi ini.
Akhirnya, setelah jumlah unta mencapai seratus ekor, Abdul Muthalib, dengan sisa-sisa harapannya, memerintahkan undian terakhir. Juru ramal mengocok anak panah, dan kali ini, dengan izin Allah, anak panah yang ditarik bukanlah nama Abdullah. Melainkan, panah yang bertuliskan "unta".
Pecahlah sorak sorai dan takbir dari kerumunan. Lega yang luar biasa menyelimuti hati setiap orang, terutama Abdul Muthalib. Ia memeluk Abdullah erat, air mata kebahagiaan membasahi pipinya. Sebuah nyawa telah diselamatkan. Seratus ekor unta yang gemuk dan sehat kemudian disembelih di sisi Ka’bah, darahnya mengalir sebagai fidyah atas nyawa Abdullah, dan dagingnya dibagikan kepada fakir miskin. Peristiwa ini kemudian menjadi preseden dalam tradisi Quraisy, menetapkan bahwa diyah (harga darah) seorang laki-laki setara dengan seratus ekor unta. Kisah ini bukan sekadar tentang nazar dan tebusan, melainkan tentang keteguhan iman, kepatuhan pada janji, dan campur tangan ilahi yang menyelamatkan garis keturunan kenabian.
Jejak Saat Ini: Refleksi di Tanah Suci
Hari ini, area di sekitar Ka’bah, tempat drama bersejarah itu terjadi, telah berubah drastis. Masjidil Haram kini berdiri megah, menaungi jutaan peziarah setiap tahun. Namun, esensi tempat itu tetap sama: pusat spiritual yang memancarkan energi tak terbatas. Ketika Anda melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah, atau shalat di dekat Maqam Ibrahim, cobalah untuk merasakan gaung sejarah yang masih berbisik di setiap sudutnya.
Tidak ada penanda khusus yang menunjukkan persis lokasi undian atau penyembelihan unta Abdul Muthalib, namun seluruh area Masjidil Haram adalah saksi bisu dari peristiwa-peristiwa agung. Saat Anda meminum air Zamzam, ingatlah bahwa sumur Zamzam juga ditemukan kembali oleh Abdul Muthalib, menunjukkan betapa sentralnya peran beliau dalam sejarah Mekkah.
Tips bagi peziarah Umrah: Saat berada di Masjidil Haram, luangkan waktu sejenak untuk merenung. Bayangkan Abdul Muthalib yang berdiri di sana, dengan hati yang bergejolak antara janji dan kasih sayang seorang ayah. Renungkanlah bagaimana Allah menyelamatkan Abdullah, mempersiapkan jalan bagi kemuliaan yang akan datang melalui keturunannya. Setiap langkah tawaf adalah kesempatan untuk menghubungkan diri dengan masa lalu yang kaya makna.
Hikmah & Ibrah: Pelajaran dari Ikrar Agung
Kisah Nazar Abdul Muthalib ini menyimpan hikmah yang mendalam bagi setiap jiwa yang merenung:
- Keteguhan dalam Janji: Meskipun Abdul Muthalib belum memeluk Islam, ia menunjukkan keteguhan yang luar biasa dalam menunaikan nazarnya. Ini mengajarkan kita pentingnya memenuhi janji dan komitmen, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia.
- Tawakkul di Tengah Ujian: Di tengah dilema yang mencekam, Abdul Muthalib tetap berserah diri pada "kehendak" yang ditunjukkan melalui undian. Ini adalah cerminan awal dari tawakkul (berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Ilahi), sebuah prinsip fundamental dalam Islam.
- Nilai Kehidupan Manusia: Peristiwa ini secara tidak langsung mengangkat martabat kehidupan manusia. Nyawa Abdullah dihargai dengan seratus ekor unta, yang pada masa itu merupakan kekayaan yang sangat besar. Ini menunjukkan betapa berharganya setiap jiwa di mata Tuhan.
- Perlindungan Ilahi terhadap Garis Kenabian: Yang terpenting, kisah ini adalah bukti nyata bagaimana Allah SWT melindungi garis keturunan Nabi Muhammad ﷺ. Jika Abdullah tidak diselamatkan, maka takdir kenabian akan berubah. Ini adalah salah satu dari banyak tanda bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah pilihan Ilahi sejak sebelum kelahirannya.
- Peran Abdul Muthalib: Kisah ini menyoroti kepemimpinan dan integritas Abdul Muthalib, yang meskipun hidup di era jahiliyah, memiliki nilai-nilai luhur seperti kejujuran, keberanian, dan kesetiaan pada janji, yang menjadi landasan bagi didikan cucunya kelak.
Penutup & Doa
Dari gurun Mekkah yang panas, di bawah naungan Ka’bah yang sakral, sebuah kisah tentang ikrar dan takdir terukir abadi. Ia mengingatkan kita bahwa di setiap simpang jalan kehidupan, di setiap ujian yang melanda, ada campur tangan Ilahi yang tak terlihat, menuntun langkah dan melindungi takdir. Semoga kita senantiasa dapat mengambil pelajaran dari sejarah para pendahulu, menguatkan iman, dan meneladani keteguhan dalam menjalankan amanah.
Ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang senantiasa menunaikan janji, berserah diri dalam setiap takdir, dan mengambil hikmah dari setiap lembar sejarah yang Kau bentangkan. Limpahkanlah rahmat dan keberkahan-Mu kepada junjungan kami, Nabi Muhammad ﷺ, serta kepada keluarga dan para sahabatnya. Amin.
