Shalat Dua Rakaat di Belakang Maqam Ibrahim Sunnah yang Sering Terlupakan

Shalat Dua Rakaat di Belakang Maqam Ibrahim: Sunnah yang Sering Terlupakan, Padahal Penuh Keutamaan

Shalat Dua Rakaat di Belakang Maqam Ibrahim: Sunnah yang Sering Terlupakan, Padahal Penuh Keutamaan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, para tamu Allah yang mulia, calon jamaah Haji dan Umrah, serta seluruh kaum Muslimin yang dirahmati Allah SWT.

Melangkahkan kaki di Tanah Suci Makkah adalah impian setiap Muslim. Setiap sudut kota suci ini menyimpan sejarah panjang, hikmah mendalam, dan keutamaan ibadah yang tak terhingga. Namun, di tengah hiruk pikuk jutaan jamaah, ada satu sunnah mulia yang seringkali terlewatkan, bahkan terlupakan oleh sebagian besar kita: Shalat Dua Rakaat di Belakang Maqam Ibrahim setelah Tawaf.

Sebagai pembimbing ibadah yang telah membersamai ribuan jamaah, saya menyaksikan betapa banyak yang fokus pada rukun dan wajib ibadah, namun kerap melalaikan sunnah-sunnah yang sejatinya menyempurnakan dan melipatgandakan pahala. Shalat dua rakaat ini bukan sekadar tambahan, melainkan bagian integral dari kesempurnaan tawaf kita, sebuah perintah ilahi yang diperkuat oleh teladan Nabi Muhammad SAW. Mari kita selami lebih dalam keutamaan, hukum, dan solusi praktis untuk menghidupkan kembali sunnah yang agung ini.

Mengapa Shalat Ini Penting? Memahami Kedudukannya dalam Manasik Haji dan Umrah

Perjalanan Haji dan Umrah adalah serangkaian ibadah yang sarat makna. Setiap gerakannya memiliki landasan syariat dan hikmah yang mendalam. Shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim adalah salah satu permata ibadah yang patut kita pahami dan tunaikan dengan sebaik-baiknya.

Jejak Sejarah dan Keagungan Maqam Ibrahim

Sebelum membahas shalatnya, mari kita pahami dulu apa itu Maqam Ibrahim. Maqam Ibrahim bukanlah kuburan atau makam Nabi Ibrahim AS. Ia adalah sebuah batu pijakan yang digunakan oleh Nabi Ibrahim AS saat membangun Ka’bah bersama putranya, Nabi Ismail AS. Di batu tersebut, terdapat bekas telapak kaki Nabi Ibrahim AS yang mukjizat. Batu ini kini diletakkan dalam sebuah bingkai emas dan kaca, berdekatan dengan Ka’bah.

Keberadaan Maqam Ibrahim adalah pengingat akan sejarah panjang tauhid, perjuangan para Nabi, dan fondasi Islam yang kokoh. Allah SWT mengabadikan tempat ini dalam Al-Quran, mengangkat derajatnya sebagai salah satu tempat paling mulia di muka bumi.

Hukum dan Kedudukan Shalat Dua Rakaat Setelah Tawaf

Shalat dua rakaat setelah tawaf di belakang Maqam Ibrahim memiliki kedudukan yang sangat penting dalam syariat Islam. Mayoritas ulama berpendapat bahwa hukumnya adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat ditekankan dan dianjurkan, bahkan mendekati wajib karena konsistensi Nabi Muhammad SAW dalam melaksanakannya.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Ka’bah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang i’tikaf, yang rukuk dan yang sujud.” (QS. Al-Baqarah: 125)

Ayat ini secara eksplisit memerintahkan kita untuk menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat. Ini adalah perintah langsung dari Allah SWT yang tidak boleh kita abaikan.

Selain itu, terdapat banyak hadits yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW senantiasa melaksanakan shalat dua rakaat ini setelah tawaf. Jabir bin Abdullah RA meriwayatkan tentang Haji Wada’ Nabi SAW:

“ثُمَّ أَتَى مَقَامَ إِبْرَاهِيمَ فَقَرَأَ: وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى، فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ”

Artinya: “Kemudian beliau (Nabi SAW) mendatangi Maqam Ibrahim, lalu membaca: Dan jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat, kemudian beliau shalat dua rakaat.” (HR. Muslim)

Ini adalah teladan nyata dari Nabi kita yang mulia, menunjukkan betapa pentingnya shalat ini dalam rangkaian ibadah tawaf.

Bukan Sekadar Pelengkap, tapi Rukun Hati

Shalat dua rakaat ini bukan sekadar gerakan fisik, melainkan penutup tawaf yang mengikatkan hati kita pada Allah. Setelah mengelilingi Ka’bah tujuh kali, kita dianjurkan untuk berdiri di tempat yang mulia ini, menghadap Ka’bah, dan bersujud kepada-Nya sebagai bentuk syukur dan ketaatan. Ini adalah momen refleksi, pengakuan akan kebesaran Allah, dan penyerahan diri sepenuhnya setelah menunaikan salah satu rukun ibadah yang paling agung.

Dalil-Dalil Kuat: Fondasi Hukum Shalat di Maqam Ibrahim

Untuk lebih menguatkan pemahaman kita, mari kita telaah kembali dalil-dalil yang menjadi fondasi hukum shalat dua rakaat ini.

Ayat Al-Quran yang Mengabadikan Perintah

Ayat Al-Baqarah 125 yang telah disebutkan di atas adalah dalil paling fundamental. Frasa “وَاتَّخِذُوا مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى” (Dan jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat) adalah perintah yang jelas. Meskipun perintah ini dalam bentuk amar (perintah), para ulama sepakat bahwa konteksnya dalam manasik Haji dan Umrah menjadikannya sunnah muakkadah, bukan wajib, karena ada fleksibilitas dalam pelaksanaannya (seperti lokasi jika tidak memungkinkan persis di belakang Maqam Ibrahim). Namun, penekanan perintah ini menunjukkan betapa besar keutamaannya.

Teladan Rasulullah SAW yang Tak Terbantahkan

Rasulullah SAW adalah teladan terbaik bagi kita. Setiap gerak-gerik beliau dalam beribadah adalah petunjuk. Seperti yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah RA dalam hadits yang panjang tentang sifat Haji Nabi SAW, beliau senantiasa melakukan shalat dua rakaat ini setelah tawaf. Beliau bahkan membaca ayat Al-Baqarah 125 sebelum shalat, menunjukkan kesesuaian antara perintah Allah dan praktik beliau.

Dalam dua rakaat ini, Nabi SAW biasanya membaca surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan Al-Ikhlas pada rakaat kedua setelah Al-Fatihah. Ini juga merupakan sunnah yang bisa kita ikuti.

Ijma’ Ulama tentang Keutamaan dan Anjuran

Hampir seluruh ulama dari berbagai mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali) sepakat akan keutamaan dan anjuran kuat (sunnah muakkadah) untuk melaksanakan shalat dua rakaat ini setelah tawaf. Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan mengenai disyariatkannya shalat ini. Perbedaan mungkin hanya pada tingkat wajib atau sunnah muakkadah, namun intinya adalah shalat ini sangat dianjurkan dan tidak boleh ditinggalkan tanpa alasan syar’i.

Perbedaan Pendapat Ulama: Fleksibilitas dalam Beribadah

Meskipun mayoritas ulama sepakat tentang sunnah muakkadah, ada sedikit perbedaan pendapat yang justru menunjukkan kemudahan dalam Islam.

Mayoritas: Sunnah Muakkadah yang Sangat Dianjurkan

Sebagaimana telah dijelaskan, jumhur ulama (mayoritas) berpendapat bahwa shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim adalah sunnah muakkadah. Ini berarti meninggalkannya tanpa alasan syar’i adalah makruh (tidak disukai), dan melaksanakannya akan mendapatkan pahala yang besar. Pandangan ini didasarkan pada perintah dalam Al-Quran dan konsistensi praktik Nabi SAW, namun juga mempertimbangkan bahwa Islam adalah agama yang mudah dan tidak memberatkan.

Sebagian Kecil: Wajib (Namun Tetap Fleksibel Lokasi)

Ada sebagian ulama yang menganggap shalat ini wajib. Namun, bahkan di kalangan mereka yang berpendapat wajib, tetap ada fleksibilitas mengenai lokasinya. Artinya, jika tidak memungkinkan shalat persis di belakang Maqam Ibrahim karena keramaian, maka shalat di tempat lain di Masjidil Haram tetap sah dan memenuhi kewajiban. Pandangan ini menunjukkan betapa pentingnya shalat ini, namun juga memahami realitas praktis.

Hikmah di Balik Perbedaan: Kemudahan bagi Umat

Perbedaan pendapat ini justru menjadi rahmat dan kemudahan bagi umat. Mengingat kondisi Masjidil Haram yang selalu ramai, terutama di musim Haji, tidak semua jamaah bisa shalat persis di belakang Maqam Ibrahim. Dengan adanya fleksibilitas lokasi, tidak ada jamaah yang merasa terbebani atau merasa ibadahnya tidak sempurna jika tidak bisa shalat di titik yang sangat spesifik. Yang terpenting adalah niat dan pelaksanaan shalat itu sendiri, di manapun di dalam Masjidil Haram.

Tantangan dan Solusi Praktis bagi Jamaah Modern

Di era modern ini, Masjidil Haram selalu dipenuhi jutaan jamaah dari seluruh penjuru dunia. Kondisi ini seringkali menjadi tantangan bagi jamaah untuk melaksanakan sunnah ini persis di belakang Maqam Ibrahim. Namun, Islam adalah agama yang realistis dan memberikan solusi.

Realita Keramaian di Masjidil Haram

Maqam Ibrahim terletak sangat dekat dengan Ka’bah, di area mataf (tempat tawaf). Area ini adalah jantung Masjidil Haram yang selalu padat. Mencari celah untuk shalat dua rakaat persis di belakang Maqam Ibrahim, apalagi dengan khusyuk, seringkali menjadi sangat sulit, bahkan bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain jika memaksakan diri di tengah lautan manusia.

Dimana Seharusnya Shalat Jika Tidak di Belakang Maqam Ibrahim?

Inilah solusi praktis yang diberikan oleh syariat dan disepakati oleh para ulama: Jika tidak memungkinkan shalat persis di belakang Maqam Ibrahim, maka shalatlah di mana saja di dalam Masjidil Haram.

Para ulama menjelaskan bahwa perintah “min Maqam Ibrahim” (dari Maqam Ibrahim) bisa diartikan sebagai “di arah Maqam Ibrahim” atau “di sekitar Maqam Ibrahim”. Yang terpenting adalah shalat menghadap Ka’bah, sebagaimana shalat pada umumnya.

Imam An-Nawawi, seorang ulama besar mazhab Syafi’i, menyatakan: “Jika ia shalat di tempat lain di Masjidil Haram, maka hal itu dibolehkan dan sunnahnya telah terpenuhi, meskipun shalat di belakang Maqam Ibrahim lebih utama.”

Jadi, jangan khawatir atau merasa ibadah tidak sempurna jika Anda tidak bisa shalat persis di belakang Maqam Ibrahim. Anda bisa mencari tempat yang lebih lapang di lantai dasar, lantai satu, lantai dua, atau bahkan di halaman Masjidil Haram yang masih termasuk dalam area Masjidil Haram.

Tips Praktis untuk Menunaikan Sunnah Ini

Sebagai pembimbing, saya menyarankan beberapa tips agar Anda bisa menunaikan sunnah mulia ini dengan nyaman dan khusyuk:

  1. Pilih Waktu yang Tepat: Jika memungkinkan, cobalah untuk tawaf dan shalat setelahnya pada waktu-waktu yang relatif lebih sepi, seperti dini hari (setelah shalat Tahajjud menjelang Subuh) atau larut malam setelah Isya’. Namun, ini tidak selalu bisa diprediksi.
  2. Jangan Memaksakan Diri: Jika area di belakang Maqam Ibrahim sangat padat, jangan memaksakan diri hingga menyakiti atau mengganggu jamaah lain. Ingatlah kaidah fiqh: “Menghindari kemudaratan lebih diutamakan daripada mengambil manfaat.” Carilah tempat lain yang lapang.
  3. Niat yang Benar: Niatkan shalat dua rakaat ini sebagai shalat sunnah setelah tawaf, mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW.
  4. Fokus pada Kekhusyukan: Di manapun Anda shalat, berusahalah untuk khusyuk. Ingatlah bahwa Anda sedang bersujud kepada Allah setelah mengelilingi rumah-Nya yang suci.
  5. Edukasi Pra-Keberangkatan: Penting bagi setiap jamaah untuk mendapatkan edukasi yang cukup sebelum berangkat. Pahami sunnah ini, hukumnya, dan solusi praktisnya agar tidak kebingungan saat di Tanah Suci.
  6. Manfaatkan Ruang yang Tersedia: Masjidil Haram sangat luas. Ada banyak area di lantai atas atau di perluasan masjid yang lebih longgar. Anda tetap bisa shalat menghadap Ka’bah di sana.

Keutamaan dan Hikmah di Balik Shalat Dua Rakaat Ini

Menghidupkan kembali sunnah yang sering terlupakan ini akan membawa kita pada berbagai keutamaan dan hikmah yang luar biasa:

Mengikuti Jejak Para Nabi dan Rasul

Dengan shalat di Maqam Ibrahim, kita secara langsung mengikuti jejak Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW. Ini adalah bentuk ketaatan dan kecintaan kita kepada para utusan Allah, serta pengakuan akan risalah tauhid yang mereka bawa.

Menguatkan Ikatan dengan Sejarah Islam

Setiap sujud di tempat yang mulia ini adalah pengingat akan sejarah panjang Islam, pengorbanan para Nabi, dan fondasi Ka’bah sebagai pusat ibadah umat Muslim. Ini menguatkan keimanan dan rasa bangga kita sebagai Muslim.

Mendapatkan Pahala Berlimpah dan Kedekatan dengan Allah

Sebagai sunnah muakkadah yang diperintahkan dalam Al-Quran dan dicontohkan Nabi, pelaksanaannya akan mendatangkan pahala yang besar dari Allah SWT. Ini adalah kesempatan untuk meraih kedekatan lebih dengan-Nya di tempat yang paling mulia.

Menyempurnakan Tawaf dengan Khusyuk

Shalat dua rakaat ini adalah penutup yang sempurna bagi ibadah tawaf. Ia melengkapi tawaf kita dengan sujud syukur, doa, dan permohonan ampun, menjadikan seluruh rangkaian ibadah lebih bermakna dan diterima di sisi Allah.

Penutup: Mari Hidupkan Kembali Sunnah yang Mulia Ini

Para jamaah yang dirahmati Allah,

Jangan biarkan sunnah yang agung ini terlewatkan begitu saja. Dalam setiap langkah ibadah kita di Tanah Suci, niatkanlah untuk mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW. Pahami ilmunya, persiapkan diri, dan manfaatkan setiap kesempatan untuk meraih pahala dan keberkahan.

Semoga Allah SWT menerima seluruh ibadah Haji dan Umrah kita, menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang senantiasa mencintai dan menghidupkan sunnah Rasulullah SAW. Semoga Allah memudahkan kita untuk menunaikan shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim, atau di manapun di Masjidil Haram, dengan penuh khusyuk dan keikhlasan.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Leave a Comment