Enam Perkara yang Merusak Amal

Ringkasan Inti:
Kultum ini membahas tentang enam perilaku yang dapat merusak dan menghapus pahala amal kebaikan seorang Muslim. Berdasarkan hikmah dari Terjemah Kitab Nashaihul Ibad halaman 42, kita akan mendalami bagaimana sifat-sifat tercela seperti riya’, ujub, hasad, ghibah, mengungkit kebaikan, dan namimah dapat menggugurkan pahala yang telah susah payah dikumpulkan, serta pentingnya menjaga keikhlasan dalam setiap ibadah dan perbuatan.

Tabel Hafalan Penceramah

Poin HikmahPenjelasan SingkatManfaat
1. Riya’Melakukan amal kebaikan agar dilihat dan dipuji manusia.Menjaga keikhlasan, fokus pada ridha Allah.
2. UjubBangga diri dan merasa hebat dengan amal ibadah sendiri.Menyadari semua nikmat dan kemampuan dari Allah.
3. HasadDengki dan tidak suka melihat nikmat pada orang lain.Memupuk rasa syukur, membersihkan hati dari penyakit.
4. GhibahMenggunjing keburukan orang lain di belakangnya.Menjaga lisan, menghormati kehormatan sesama Muslim.
5. Mengungkit KebaikanMenyebut-nyebut atau merasa berjasa atas kebaikan yang telah dilakukan.Menanamkan ketulusan, beramal tanpa pamrih.
6. NamimahMengadu domba atau menyebarkan fitnah antar sesama.Membangun persatuan, menjaga kedamaian sosial.

Naskah Ceramah Lengkap

Mukadimah

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, wabihi nasta’inu ‘ala umuriddunya waddin. Washolatu wassalamu ‘ala asyrofil anbiya’i wal mursalin, sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Para jamaah, Bapak-bapak, Ibu-ibu, hadirin hadirat yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan nikmat, karunia, dan hidayah-Nya, sehingga pada kesempatan yang berbahagia ini kita dapat berkumpul di majelis yang mulia ini dalam keadaan sehat wal afiat. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada junjungan kita, Nabi besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman. Semoga kita semua termasuk umat yang kelak mendapatkan syafaat beliau di Hari Kiamat. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Saudaraku seiman dan setaqwa, sungguh kita adalah hamba-hamba yang lemah, yang senantiasa membutuhkan bimbingan dan pertolongan Allah. Kita berlomba-lomba dalam kebaikan, mengumpulkan pundi-pundi amal shalih, berharap kelak dapat meraih surga-Nya. Namun, pernahkah kita merenungkan, bahwa amal yang telah kita lakukan dengan susah payah itu bisa saja sirna, hampa tak berbekas, bahkan tanpa kita sadari?

Isi Ceramah

Hadirin yang berbahagia,
Dalam khazanah keilmuan Islam, banyak sekali ulama yang mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga kualitas amal. Salah satu rujukan yang patut kita renungkan adalah apa yang disampaikan dalam Terjemah Kitab Nashaihul Ibad, pada halaman 42, yang menjelaskan tentang enam perkara yang dapat merusak amal kebaikan seorang hamba. Mari kita telaah satu per satu, agar kita dapat menghindarinya dan menjaga kemurnian ibadah kita.

1. Riya’ dan Ujub: Pamer dan Bangga Diri

Dua penyakit hati ini adalah racun mematikan bagi amal. Riya’ adalah melakukan suatu amal kebaikan dengan niat agar dilihat dan dipuji oleh manusia, bukan semata-mata karena Allah. Shalatnya diperbagus ketika ada orang lain, sedekahnya dibesar-besarkan agar namanya disebut-sebut, tilawahnya dilagukan agar mendapat pujian. Padahal, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Ma’un ayat 4-6:

"Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya’."

Amal yang diwarnai riya’ bagaikan debu yang beterbangan, tidak memiliki bobot di sisi Allah. Ia hanya mengejar pujian fana dari manusia, padahal yang abadi adalah ridha Allah.

Kemudian, ada Ujub, yaitu rasa bangga diri, merasa hebat dengan amal ibadah yang telah dilakukan. Seseorang yang ujub merasa dirinya paling shalih, paling taat, paling berilmu, dan merendahkan orang lain. Ia lupa bahwa semua kemampuan beribadah, semua ilmu, semua kebaikan, adalah anugerah dan taufik dari Allah semata. Nabi ﷺ bersabda: "Tiga perkara yang membinasakan: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri." (HR. Baihaqi). Ujub ini bisa menjadi pintu menuju kesombongan, dan kesombongan adalah dosa yang sangat dibenci Allah.

2. Hasad dan Ghibah: Dengki dan Menggunjing

Penyakit hati selanjutnya adalah Hasad, yaitu dengki atau iri hati. Hasad adalah perasaan tidak senang melihat nikmat yang Allah berikan kepada orang lain, dan berharap nikmat itu hilang dari mereka. Ini adalah penyakit hati yang sangat berbahaya, karena ia sejatinya menolak takdir Allah. Bagaimana mungkin kita tidak senang dengan apa yang telah Allah karuniakan kepada hamba-Nya? Nabi ﷺ mengingatkan kita: "Jauhilah hasad (iri hati), karena hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar." (HR. Abu Dawud). Amal shalih yang telah kita kumpulkan bisa habis terbakar oleh api kedengkian.

Beriringan dengan hasad adalah Ghibah, yaitu menggunjing atau membicarakan keburukan orang lain di belakangnya. Bahkan jika yang dibicarakan itu benar adanya, tetap saja itu adalah ghibah yang dilarang. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 12:

"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang."

Ayat ini dengan tegas menyamakan ghibah dengan memakan daging bangkai saudara sendiri, sebuah perumpamaan yang sangat menjijikkan. Ghibah tidak hanya merusak hubungan antar sesama, tetapi juga mengikis pahala amal kita, bahkan bisa memindahkan pahala kita kepada orang yang kita gunjing.

3. Mengungkit Kebaikan dan Namimah: Tanpa Ketulusan dan Adu Domba

Yang ketiga adalah Mengungkit-ungkit Kebaikan (Al-Mann). Ini adalah sikap merasa berjasa dan menyebut-nyebut atau membanggakan kebaikan yang telah dilakukan kepada orang lain. Misalnya, setelah membantu seseorang, kita seringkali mengingatkan dia tentang bantuan kita, atau menceritakannya kepada orang lain agar kita dipandang sebagai dermawan. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 264:

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian."

Ayat ini jelas menunjukkan bahwa amal sedekah yang diungkit-ungkit akan batal pahalanya, bahkan disamakan dengan orang yang riya’ dan tidak beriman. Ikhlas adalah kunci. Biarlah tangan kanan memberi, tangan kiri tidak tahu.

Terakhir, Namimah, yaitu mengadu domba atau menyebarkan perkataan dari satu orang ke orang lain dengan tujuan merusak hubungan mereka. Ini adalah perbuatan yang sangat keji dan dapat menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat. Nabi ﷺ bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba (namimah)." (HR. Bukhari dan Muslim). Perbuatan namimah tidak hanya menghapus pahala, tetapi juga dapat menjadi sebab seseorang terhalang masuk surga. Ia merusak ukhuwah islamiyah, menciptakan permusuhan dan kebencian.

Kisah & Analogi

Saudaraku sekalian,
Mari kita ambil sebuah analogi sederhana. Bayangkan kita sedang menabung di sebuah bank. Setiap hari kita menyetorkan uang hasil jerih payah kita, sedikit demi sedikit, berharap suatu saat tabungan itu akan menjadi banyak dan bermanfaat. Namun, tanpa kita sadari, ada enam lubang kecil di dasar celengan kita. Setiap kali kita menyetor, sebagian uang itu bocor dan hilang.

Riya’ adalah lubang yang membuat uang kita hanya terlihat di permukaan, tapi tidak masuk ke rekening akhirat. Ujub adalah lubang yang membuat kita merasa sudah kaya padahal uang kita terus berkurang. Hasad adalah lubang yang justru membuat uang kita menguap ketika melihat orang lain punya lebih banyak. Ghibah adalah lubang yang paling besar, yang dengan cepat menguras tabungan kita dan memindahkannya ke rekening orang yang kita gunjing. Mengungkit kebaikan adalah lubang yang membuat uang yang sudah masuk, tiba-tiba keluar lagi. Dan Namimah adalah lubang yang merusak dasar celengan itu sendiri, membuat semua tabungan rentan hancur.

Maka, percuma kita menabung banyak jika lubang-lubang itu tidak kita tutup. Percuma kita beramal banyak jika enam perilaku ini masih bersarang di hati dan lisan kita.

Muhasabah

Hadirin yang dirahmati Allah,
Setelah merenungkan enam perkara perusak amal ini, mari kita bermuhasabah, merenungi diri. Apakah ada di antara kita yang masih sering terjebak dalam riya’, ingin dipuji dalam beramal? Atau ujub, merasa diri paling benar dan paling shalih? Apakah hati kita masih sering diliputi hasad ketika melihat kebahagiaan orang lain? Apakah lisan kita masih ringan untuk berghibah, membicarakan aib sesama? Apakah kita masih sering mengungkit-ungkit kebaikan yang telah kita lakukan, merusak pahala sedekah dan bantuan kita? Atau bahkan, apakah kita pernah menjadi bagian dari penyebar namimah, adu domba di antara kaum Muslimin?

Sungguh, ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus kita jawab dengan jujur dalam hati. Mari kita bersihkan hati kita dari penyakit-penyakit ini. Mari kita niatkan setiap amal semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dilihat atau dipuji manusia. Mari kita pupuk rasa syukur, qana’ah, dan husnuzon (berprasangka baik) kepada sesama. Mari kita jaga lisan kita dari ucapan yang sia-sia dan merusak.

Setiap amal baik yang kita lakukan adalah investasi untuk akhirat. Jangan biarkan investasi berharga itu hangus sia-sia karena penyakit hati dan lisan yang seringkali kita anggap remeh. Ingatlah, Allah tidak melihat rupa dan harta kita, tetapi Dia melihat hati dan amal kita.

Penutup & Doa

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang ikhlas, yang amalannya diterima, dan yang terhindar dari segala hal yang dapat merusak pahala. Mari kita berdoa.

A’udzubillahiminas syaitonirrojim. Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahirobbil alamin. Hamdan yuwafi ni’amahu wayukafi mazidah. Ya robbana walakal hamdu walakasyukru kama yanbaghi lijalali wajhika wa’adzimi sulthonik.

Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
Allahumma inna nas’aluka salamatan fiddin, wa ‘afiyatan fil jasad, wa ziyadatan fil ‘ilmi, wa barakatan fir rizqi, wa taubatan qoblal maut, wa rahmatan ‘indal maut, wa maghfirotan ba’dal maut.
Allahumma hawwin ‘alaina fi sakaratil maut, wan najata minannar, wal ‘afwa ‘indal hisab.
Rabbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina ‘adzabannar.
Robbana dzolamna anfusana wa illam taghfirlana watarhamna lanakunanna minal khosirin.
Subhana robbika robbil izzati amma yashifun, wasalamun alal mursalin, walhamdulillahi robbil alamin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Sudah Paham Ilmunya? Sekarang Cari Travelnya yang Amanah

Cek Rekomendasi Perjalanan Umroh dengan 5 Pasti di Umroh5.com
✅ Pasti Travelnya, ✅ Pasti Jadwalnya, ✅ Pasti Terbangnya, ✅ Pasti Hotelnya, ✅ Pasti Visanya

Leave a Comment