Naik ke Bukit Shafa dan Marwah Saat Sa’i Apakah Harus Sampai Puncak

Ibadah Haji dan Umrah adalah puncak kerinduan bagi setiap Muslim. Di antara rangkaian ritualnya yang penuh makna, Sa’i menjadi salah satu pilar penting yang tak terpisahkan. Berjalan tujuh kali bolak-balik antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah, kita menapaki jejak perjuangan Siti Hajar mencari air untuk putranya, Ismail. Namun, di tengah kesibukan dan antusiasme menjalankan ibadah, seringkali muncul pertanyaan di benak para jamaah: “Apakah saat melakukan Sa’i, kita harus benar-benar naik sampai ke puncak kedua bukit tersebut?”

Pertanyaan ini terdengar sederhana, namun menyentuh esensi dari bagaimana kita memahami dan melaksanakan tuntunan syariat. Sebagai seorang yang telah bertahun-tahun mendampingi para tamu Allah, saya seringkali mendapati kebingungan serupa. Mari kita bedah bersama, dengan penuh kehati-hatian dan berdasarkan dalil-dalil syariat, apakah mendaki hingga puncak Shafa dan Marwah saat Sa’i merupakan sebuah keharusan atau sekadar pilihan.

Memahami Hakikat Sa’i: Lebih dari Sekadar Berjalan

Sebelum melangkah lebih jauh ke pembahasan puncak bukit, penting bagi kita untuk memahami terlebih dahulu apa itu Sa’i dan mengapa ia menjadi bagian integral dari ibadah haji dan umrah.

Sa’i secara harfiah berarti “berjalan cepat” atau “berlari kecil”. Dalam konteks ibadah, Sa’i adalah ritual berjalan tujuh kali antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah. Ritual ini memiliki latar belakang sejarah yang sangat kuat, yaitu kisah perjuangan Siti Hajar yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim di lembah tandus Makkah bersama putranya, Ismail.

Ketika persediaan air habis dan Ismail mulai menangis kehausan, Siti Hajar dengan penuh keputusasaan berlari dari Shafa ke Marwah, lalu kembali lagi, mencari sumber air. Ketekunan dan tawakal Siti Hajar inilah yang akhirnya membuahkan hasil dengan munculnya mata air Zamzam di bawah kaki Ismail.

Oleh karena itu, Sa’i bukan sekadar gerakan fisik. Ia adalah simbol dari:

  • Ketekunan dan Keuletan: Mengingatkan kita untuk tidak mudah menyerah dalam menghadapi cobaan hidup.
  • Tawakal dan Ketergantungan pada Allah: Menunjukkan bahwa segala usaha harus dibarengi dengan keyakinan penuh pada pertolongan-Nya.
  • Semangat Mencari Solusi: Mengajarkan kita untuk proaktif dalam mencari jalan keluar dari setiap permasalahan.

Memahami makna mendalam ini akan membantu kita dalam menjalankan setiap tahapan Sa’i dengan penuh kekhusyukan dan kesadaran.

Dalil Syariat Mengenai Sa’i

Untuk menjawab pertanyaan apakah harus sampai puncak, kita perlu merujuk pada sumber utama ajaran Islam, yaitu Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

Dalam Al-Quran, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai Sa’i:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

Artinya: “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar (agama) Allah. Maka barangsiapa yang beribadah Haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan hati yang suka, maka sesungguhnya Allah Maha Menerima kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 158)

Ayat ini menegaskan bahwa Sa’i antara Shafa dan Marwah adalah bagian dari syiar Allah. Kata “yaththawafa” (mengerjakan sa’i) di sini merujuk pada aktivitas berjalan bolak-balik di antara keduanya. Ayat ini tidak secara spesifik menyebutkan keharusan untuk mendaki sampai puncak.

Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Banyak hadits yang menjelaskan tentang tata cara Sa’i. Salah satunya adalah hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

“كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَجَّ أَوْ اعْتَمَرَ أَوَّلُ مَا يَبْدَأُ بِهِ السَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ. وَكَانَ إِذَا طَافَ بِالْبَيْتِ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّفَا فَإِنَّهُ يَبْدَأُ بِالصَّفَا حَتَّى يَسْتَقبِلَ الْبَيْتَ، فَيَقُومُ عَلَيْهِ حَتَّى يَرَاهُ، ثُمَّ يَرْجِعُ حَتَّى يَأْتِيَ الْمَرْوَةَ، فَيَقُومُ عَلَيْهَا حَتَّى يَرَاهُ، ثُمَّ يَرْجِعُ، فَإِنَّهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ سَبْعَ مَرَّاتٍ.”

Artinya: “Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau haji atau umrah, yang pertama kali beliau mulai adalah Sa’i antara Shafa dan Marwah. Dan ketika beliau thawaf di Baitullah, kemudian keluar menuju Shafa, maka beliau memulai dari Shafa hingga menghadap ke Baitullah, lalu beliau berdiri di sana hingga melihatnya. Kemudian beliau kembali hingga mendatangi Marwah, lalu berdiri di sana hingga melihatnya. Kemudian beliau kembali. Maka beliau melakukan itu sebanyak tujuh kali.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjelaskan bahwa Sa’i dimulai dari Shafa dan berakhir di Marwah, lalu kembali lagi, dan seterusnya sebanyak tujuh kali. Disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di Shafa hingga melihat Ka’bah, dan berdiri di Marwah hingga melihat Ka’bah.

Pertanyaan krusialnya adalah: apakah “berdiri di sana hingga melihatnya” berarti harus sampai ke puncak tertinggi bukit tersebut?

Perbedaan Pendapat Ulama: Menelisik Nuansa Fiqh

Dalam ranah fiqh, seringkali terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai detail-detail pelaksanaan ibadah, terutama jika dalilnya bersifat umum atau memiliki penafsiran yang beragam. Hal ini juga terjadi pada masalah Sa’i di Bukit Shafa dan Marwah.

Secara umum, perbedaan pendapat ulama mengenai keharusan naik sampai puncak Shafa dan Marwah saat Sa’i dapat dikategorikan menjadi dua pandangan utama:

 

Rindu Baitullah? Wujudkan Bersama Kami

Kami siap mendampingi perjalanan ibadah Anda dengan bimbingan penuh dan fasilitas nyaman, agar Anda bisa fokus bermunajat.

 

📞 Hubungi Kami

 

 

Pandangan Pertama: Tidak Harus Sampai Puncak Tertinggi

Mayoritas ulama, termasuk dari mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali, berpendapat bahwa tidak ada keharusan mutlak untuk mendaki hingga puncak tertinggi kedua bukit tersebut.

Alasan utama pandangan ini adalah:

  1. Tujuan Sa’i adalah Melewati Area Shafa dan Marwah: Yang terpenting dalam Sa’i adalah melewati jarak antara kedua bukit tersebut, dari titik awal di Shafa hingga titik akhir di Marwah, sebanyak tujuh kali.
  2. Dalil Tidak Menekankan Puncak: Hadits-hadits yang menjelaskan Sa’i lebih menekankan pada aktivitas berjalan dan melewati area antara Shafa dan Marwah, bukan pada mencapai ketinggian tertentu. Frasa “hingga melihat Ka’bah” bisa diartikan sebagai berdiri di tempat yang memungkinkan melihat Ka’bah dari area tersebut, tidak harus dari titik tertinggi.
  3. Kemudahan Bagi Jamaah: Menjadikan Sa’i sebagai ritual yang harus mendaki puncak tertinggi akan memberatkan sebagian jamaah, terutama bagi mereka yang lanjut usia, memiliki keterbatasan fisik, atau sedang sakit. Ibadah haji dan umrah seharusnya dimudahkan, bukan dipersulit.

Dalam pandangan ini, yang terpenting adalah memulai Sa’i dari area Shafa dan mengakhirinya di area Marwah, serta berjalan di jalur yang telah ditentukan antara keduanya.

Pandangan Kedua: Dianjurkan Sampai Puncak Tertinggi (Sebagai Bentuk Kesempurnaan)

Sebagian ulama lain, meskipun tidak mendefinisikan keharusan, berpendapat bahwa sangat dianjurkan untuk mendaki hingga titik tertinggi kedua bukit tersebut.

Alasan mereka adalah:

  1. Mengikuti Jejak Rasulullah Secara Penuh: Ada penafsiran bahwa ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di Shafa dan Marwah hingga melihat Ka’bah, beliau melakukannya dari titik yang paling memungkinkan untuk melihat Ka’bah, yaitu dari bagian yang lebih tinggi.
  2. Kesempurnaan Ibadah: Mendaki hingga puncak dianggap sebagai bentuk penyempurnaan ritual, meneladani perjuangan Siti Hajar yang mungkin berusaha mencari tempat yang lebih tinggi untuk melihat sekeliling.
  3. Mengambil Berkah Lebih Penuh: Dipercaya bahwa mencapai titik tertinggi bukit akan memberikan pengalaman spiritual yang lebih mendalam dan memungkinkan seseorang untuk lebih meresapi makna ibadah.

Namun, penting untuk dicatat bahwa pandangan ini lebih bersifat anjuran (sunnah) daripada kewajiban (wajib). Jika karena alasan tertentu tidak bisa mencapai puncak, ibadah Sa’i tetap sah.

Solusi Praktis Bagi Jamaah Zaman Sekarang

Memahami perbedaan pendapat ini memberikan kita ruang untuk bertindak bijak dan praktis, terutama di tengah keramaian dan kondisi fisik yang berbeda-beda pada jamaah haji dan umrah.

Berikut adalah beberapa solusi praktis yang bisa diambil oleh para jamaah:

1. Prioritaskan Keabsahan Ibadah

Hal terpenting adalah Sa’i Anda sah. Berdasarkan mayoritas ulama, Sa’i sah jika:

  • Anda memulai dari area Shafa.
  • Anda mengakhiri di area Marwah.
  • Anda berjalan di jalur yang telah ditentukan antara keduanya.
  • Anda melakukan sebanyak tujuh kali putaran.

Jika Anda merasa kesulitan untuk mendaki hingga puncak tertinggi karena keramaian, keterbatasan fisik, atau faktor lainnya, jangan khawatir. Tetaplah berjalan di jalur Sa’i, dan ibadah Anda akan tetap sah.

2. Bagi yang Mampu, Berusahalah Mendekati Puncak

Jika kondisi fisik Anda memungkinkan dan tidak terlalu ramai, sangat baik jika Anda berusaha mendaki mendekati puncak Shafa dan Marwah. Berdirilah di tempat yang Anda rasa paling nyaman dan memungkinkan untuk melihat Ka’bah, sambil meresapi makna di baliknya. Ini adalah bentuk ikhtiar untuk menyempurnakan ibadah.

3. Manfaatkan Fasilitas yang Ada

Saat ini, area Sa’i telah dilengkapi dengan fasilitas yang memadai. Jalur Sa’i memiliki penanda arah yang jelas. Anda bisa berjalan sesuai dengan kemampuan Anda. Jika ada bagian yang menanjak, berjalanlah perlahan dan istirahat sejenak jika perlu.

4. Perhatikan Tanda-tanda Awal dan Akhir

Saat memulai dari Shafa, Anda bisa berjalan menuju area yang lebih tinggi di Shafa. Begitu pula saat di Marwah, Anda bisa berjalan ke area yang lebih tinggi di Marwah. Yang terpenting adalah Anda berada di area Shafa saat memulai putaran pertama dan di area Marwah saat mengakhiri putaran pertama (dan seterusnya).

5. Fokus pada Kekhusyukan dan Doa

Daripada terpaku pada apakah sudah sampai puncak atau belum, lebih baik fokus pada kekhusyukan ibadah. Perbanyak doa, dzikir, dan tadabbur (merenungkan makna) di setiap langkah Anda. Ingatlah perjuangan Siti Hajar dan jadikan itu sebagai sumber inspirasi.

6. Gunakan Jasa Petugas atau Pendamping

Jika Anda ragu atau memiliki kekhawatiran, jangan sungkan untuk bertanya kepada petugas haji/umrah yang berpengalaman atau pembimbing ibadah Anda. Mereka akan dengan senang hati memberikan arahan yang tepat.

7. Bagi Jamaah dengan Keterbatasan Fisik

Bagi jamaah yang menggunakan kursi roda, mereka tetap dapat melakukan Sa’i di jalur yang telah disediakan. Petugas akan membantu mengarahkan mereka. Fokus mereka adalah menyelesaikan tujuh putaran di jalur Sa’i, bukan mendaki puncak.

Kesimpulan: Ibadah yang Mudah dan Bermakna

Menjawab pertanyaan “Naik ke Bukit Shafa dan Marwah Saat Sa’i Apakah Harus Sampai Puncak?”, kesimpulannya adalah:

Tidak ada kewajiban mutlak untuk mendaki hingga puncak tertinggi Bukit Shafa dan Marwah saat melakukan Sa’i.

Yang terpenting adalah melaksanakan Sa’i sesuai dengan tuntunan syariat, yaitu berjalan tujuh kali bolak-balik antara kedua bukit tersebut, dimulai dari Shafa dan berakhir di Marwah. Mayoritas ulama berpendapat bahwa keabsahan Sa’i tidak bergantung pada pencapaian puncak tertinggi.

Namun, bagi yang mampu, mendaki mendekati puncak atau berdiri di tempat yang memungkinkan melihat Ka’bah adalah suatu keutamaan dan bentuk kesempurnaan ibadah yang dianjurkan.

Ibadah haji dan umrah adalah anugerah dari Allah yang seharusnya dijalankan dengan mudah dan penuh makna. Jangan sampai kekhawatiran akan detail-detail kecil mengurangi kekhusyukan dan keikhlasan kita dalam beribadah. Fokuslah pada tujuan utama: mendekatkan diri kepada Allah, meneladani para nabi dan orang-orang saleh, serta memohon ampunan dan rahmat-Nya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan setiap langkah para tamu-Nya dalam menunaikan ibadah Haji dan Umrah, serta menerima seluruh amal ibadah kita. Aamiin.

 

Leave a Comment