Pada tahun keenam Hijriah, sebuah peristiwa monumental terukir dalam sejarah Islam di Hudaibiyah, sebuah lembah di pinggiran Makkah. Peristiwa ini, yang dikenal sebagai Perjanjian Hudaibiyah, merupakan kesepakatan damai antara kaum Muslimin Madinah yang dipimpin oleh Nabi Muhammad ﷺ dengan kaum Quraisy Makkah. Inti dari perjanjian ini adalah gencatan senjata selama sepuluh tahun, namun ia juga mencakup poin-poin yang secara lahiriah terasa sangat merugikan bagi Muslim, terutama tuntutan penghapusan gelar "Rasulullah" dari nama Nabi Muhammad ﷺ dalam naskah perjanjian. Peristiwa ini menjadi ujian keimanan yang dahsyat bagi para sahabat, sebagaimana dicatat dalam kitab-kitab sejarah, termasuk Fathul Baari Jilid 15 Halaman 278.
TABEL FAKTA SEJARAH
| Data / Peristiwa | Keterangan / Fakta |
|---|---|
| Penghapusan "Bismillahirrahmanirrahim" | Atas permintaan Quraisy, kalimat pembuka perjanjian diganti menjadi "Bismika Allahumma" (Dengan nama-Mu, ya Allah). |
| Penghapusan Gelar "Rasulullah" | Nama Nabi Muhammad ﷺ dalam perjanjian hanya ditulis sebagai "Muhammad bin Abdullah" atas desakan Suhail bin Amr. |
| Pengembalian Muslim Quraisy | Muslim Makkah yang melarikan diri ke Madinah wajib dikembalikan ke Makkah tanpa syarat. |
| Tidak Ada Pengembalian Quraisy | Kaum Quraisy Makkah yang melarikan diri ke Madinah tidak wajib dikembalikan ke Makkah. |
| Penundaan Ibadah Umrah | Kaum Muslimin dilarang memasuki Makkah untuk umrah pada tahun itu dan harus kembali ke Madinah, baru boleh umrah tahun depan. |
| Gencatan Senjata Sepuluh Tahun | Kedua belah pihak bersepakat untuk tidak saling menyerang selama sepuluh tahun ke depan. |
KISAH & ATMOSFER
Mentari di ufuk barat mulai meredup, membiaskan cahaya jingga yang menyelimuti gurun pasir. Hawa panas masih terasa menyengat, bercampur dengan debu halus yang diembuskan angin sepoi-sepoi. Di lembah Hudaibiyah, sekitar 22 kilometer dari Makkah, suasana tegang dan getir menyelimuti ribuan pasang mata. Mereka adalah para sahabat Nabi Muhammad ﷺ, yang telah menempuh perjalanan jauh dari Madinah, dengan hati penuh rindu dan harapan untuk menunaikan ibadah umrah di Baitullah, rumah yang telah lama mereka tinggalkan.
Bendera-bendera putih perdamaian telah dikibarkan, niat suci telah terucap, namun jalan menuju Makkah terhalang. Kaum Quraisy, dengan segala kesombongan dan dendam lama, memblokir setiap akses. Setelah serangkaian perundingan yang alot, diutuslah Suhail bin Amr, seorang delegasi Quraisy yang terkenal keras kepala, untuk merumuskan perjanjian.
Di tengah-tengah kerumunan sahabat yang memendam cemas, Nabi Muhammad ﷺ duduk tenang, namun sorot matanya menyimpan kebijaksanaan yang tak terjangkir. Di hadapan beliau, Ali bin Abi Thalib, dengan pena dan lembaran kulit, bersiap menuliskan butir-butir kesepakatan.
"Tulislah: ‘Bismillahirrahmanirrahim’," sabda Nabi.
Suhail bin Amr segera menyela, "Tidak! Kami tidak mengenal istilah ‘Ar-Rahman’ atau ‘Ar-Rahim’. Tulislah saja, ‘Bismika Allahumma’ (Dengan nama-Mu, ya Allah), sebagaimana kebiasaan kami."
Para sahabat tersentak. Hati mereka bergemuruh. Bagaimana mungkin kalimat agung yang menjadi pembuka setiap kebaikan itu ditolak? Namun, Nabi ﷺ, dengan ketenangan yang luar biasa, berbisik kepada Ali, "Tulislah, ‘Bismika Allahumma’." Ali, dengan berat hati, menuruti.
Kemudian, Nabi Muhammad ﷺ mendiktekan, "Ini adalah perjanjian damai yang disepakati oleh Muhammad Rasulullah…"
Belum sempat Ali menyelesaikan kalimatnya, Suhail kembali memotong dengan nada tinggi, "Jika kami mengakui engkau sebagai Rasulullah, tentu kami tidak akan memerangimu! Tulislah saja namamu, Muhammad bin Abdullah!"
Petir seolah menyambar hati para sahabat. Wajah-wajah mereka memerah menahan amarah, mata mereka berkaca-kaca menahan pedih. Gelar "Rasulullah", sebuah kemuliaan yang dianugerahkan langsung oleh Allah, kini diminta untuk dihapus. Ali bin Abi Thalib, dengan tangan gemetar, menolak. "Demi Allah, aku tidak akan menghapus gelar Rasulullah dari namamu!"
Suasana menjadi sangat tegang. Para sahabat siap meledak. Namun, Nabi Muhammad ﷺ justru menatap Ali dengan tatapan lembut, penuh kasih. "Tunjukkan padaku di mana letak kata ‘Rasulullah’ itu, wahai Ali," sabda beliau. Ali menunjuk. Dengan tangan mulia yang sama, yang pernah menerima wahyu dari langit, Nabi Muhammad ﷺ menghapus sendiri kata "Rasulullah" dari naskah perjanjian. Sebuah pemandangan yang meremukkan hati setiap orang yang menyaksikannya.
Fathul Baari Jilid 15 Halaman 278 dengan jelas mengabadikan momen pahit ini, di mana Rasulullah ﷺ menunjukkan teladan kesabaran dan ketaatan kepada takdir Ilahi, meskipun terasa sangat berat secara lahiriah.
Poin-poin perjanjian selanjutnya semakin menguji keimanan mereka. Gencatan senjata sepuluh tahun, penundaan umrah, dan yang paling menyesakkan adalah klausul tentang pengembalian pengungsi. Jika ada Muslim dari Quraisy yang melarikan diri ke Madinah, mereka wajib dikembalikan ke Makkah. Namun, jika ada Muslim Madinah yang membelot ke Makkah, mereka tidak wajib dikembalikan.
Tak lama setelah perjanjian ditandatangani, seorang pemuda bernama Abu Jandal muncul. Ia adalah putra Suhail bin Amr sendiri, seorang Muslim yang telah disiksa oleh kaum Quraisy. Dengan kaki terbelenggu dan luka di sekujur tubuh, Abu Jandal merangkak menuju kaum Muslimin, memohon perlindungan. Para sahabat berteriak, "Wahai Rasulullah, apakah ini tidak adil? Dia seorang Muslim, mengapa harus dikembalikan?"
Nabi Muhammad ﷺ menatap Abu Jandal dengan penuh iba, namun perjanjian telah disepakati. "Wahai Abu Jandal, bersabarlah. Allah akan memberimu jalan keluar. Kita tidak boleh melanggar perjanjian," sabda beliau, dengan suara bergetar menahan kesedihan. Abu Jandal pun dikembalikan ke tangan ayahnya yang kejam, diiringi isak tangis para sahabat yang menyaksikan ketidakadilan itu.
Keesokan harinya, Nabi Muhammad ﷺ memerintahkan para sahabat untuk menyembelih hewan kurban dan bercukur, sebagai tanda bahwa ibadah umrah telah selesai, meskipun mereka belum sampai di Makkah. Namun, hati para sahabat terlalu hancur, terlalu bingung. Mereka terdiam, tak ada yang bergerak. Nabi mengulangi perintahnya tiga kali, namun tetap saja, tak ada respons.
Dalam kesedihan yang mendalam, Nabi Muhammad ﷺ masuk ke kemahnya dan menceritakan apa yang terjadi kepada istri beliau, Ummu Salamah. Dengan kebijaksanaan seorang wanita mulia, Ummu Salamah menasihati, "Wahai Rasulullah, keluarlah. Jangan bicara dengan siapa pun. Sembelihlah hewan kurbanmu, dan cukurlah rambutmu."
Nabi Muhammad ﷺ mengikuti nasihat itu. Beliau keluar, menyembelih unta kurbannya, dan meminta tukang cukur untuk mencukur rambutnya. Melihat ketegasan Nabi, para sahabat akhirnya tersadar. Mereka pun bangkit, saling mencukur rambut, hingga nyaris berdesakan, saking tergesa-gesanya mereka ingin menaati perintah Nabi.
Dengan hati yang berat, kaum Muslimin kembali ke Madinah. Kekecewaan terasa begitu mendalam. Mereka datang untuk umrah, tetapi pulang tanpa mencium Hajar Aswad, tanpa tawaf di Ka’bah. Mereka datang dengan harapan, tetapi kembali dengan perjanjian yang terasa seperti kekalahan.
JEJAK SAAT INI
Lembah Hudaibiyah yang dulunya menjadi saksi bisu ketegangan dan ujian keimanan, kini telah berubah. Lokasi bersejarah ini, yang terletak sekitar 22 kilometer sebelah barat Makkah, kini dikenal sebagai Asy-Syumaisi atau Al-Hudaibiyah. Di sana berdiri sebuah masjid yang dinamakan Masjid Al-Hudaibiyah, menjadi penanda peristiwa agung ini. Area sekitarnya telah berkembang, namun masih mempertahankan nuansa gurunnya.
Bagi para jamaah umrah dan haji yang melewati jalur lama menuju Jeddah, atau yang sengaja berkunjung, Masjid Al-Hudaibiyah sering menjadi tempat singgah untuk menunaikan salat atau sekadar merenungi peristiwa bersejarah. Tempat ini juga menjadi salah satu miqat bagi penduduk yang tinggal di area tersebut atau bagi mereka yang ingin berihram dari sana. Mengunjungi Hudaibiyah bukan sekadar melihat bangunan fisik, melainkan sebuah kesempatan untuk menyentuh langsung jejak sejarah, merasakan kembali atmosfer kesabaran dan ketaatan yang dicontohkan Rasulullah ﷺ dan para sahabat.
Tips bagi jamaah: Saat berada di Hudaibiyah, luangkan waktu untuk merenung. Bayangkan ketegangan saat itu, kebingungan para sahabat, dan kebijaksanaan Nabi. Ini akan memberikan dimensi spiritual yang lebih dalam pada perjalanan ibadah Anda.
HIKMAH & IBRAH
Perjanjian Hudaibiyah, yang secara lahiriah tampak sebagai kekalahan dan penghinaan, ternyata adalah sebuah kemenangan besar yang di luar dugaan. Allah SWT sendiri menamai perjanjian ini sebagai "Fathan Mubina" (Kemenangan yang Nyata) dalam Surah Al-Fath ayat 1: "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata."
Dari peristiwa ini, kita belajar tentang pentingnya kesabaran dan ketaatan mutlak kepada pemimpin yang bijaksana, meskipun jalan yang ditunjukkan terasa sulit dan tidak masuk akal. Para sahabat, dengan segala kecintaan dan kesetiaan mereka, awalnya tidak memahami hikmah di balik penghapusan gelar "Rasulullah" atau poin-poin perjanjian yang merugikan. Mereka melihat dengan mata lahiriah, dengan emosi yang bergejolak. Namun, Nabi Muhammad ﷺ melihat dengan mata wahyu, dengan pandangan jauh ke depan yang hanya diketahui oleh Allah.
Penghapusan gelar "Rasulullah" adalah ujian terbesar. Ia mengajarkan bahwa kemuliaan sejati bukan terletak pada sebutan atau pengakuan manusia, melainkan pada hakikat kenabian itu sendiri yang telah dianugerahkan Allah. Ketaatan Nabi Muhammad ﷺ pada permintaan Quraisy untuk menghapus gelar itu menunjukkan kebesaran jiwa beliau, bahwa tujuan utama adalah perdamaian dan penyebaran dakwah, bukan mempertahankan ego atau status di mata manusia.
Hikmah tersembunyi dari perjanjian ini adalah terbukanya pintu dakwah. Dengan adanya gencatan senjata, kaum Muslimin bebas berinteraksi dengan kabilah-kabilah Arab lain yang sebelumnya terhalang oleh permusuhan Quraisy. Banyak kabilah yang kemudian memeluk Islam. Lebih dari itu, perjanjian Hudaibiyah menjadi jembatan menuju Fathu Makkah (penaklukan Makkah) dua tahun kemudian. Tanpa perjanjian ini, penaklukan Makkah mungkin akan jauh lebih sulit dan berdarah. Kemenangan yang terasa seperti kekalahan, ternyata adalah pembuka jalan menuju kemenangan yang sesungguhnya.
Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua. Seringkali dalam hidup, kita dihadapkan pada situasi yang terasa tidak adil, merugikan, atau bahkan menghinakan. Kita mungkin merasa kecewa, marah, atau putus asa. Namun, kisah Hudaibiyah mengingatkan kita bahwa di balik setiap ujian, setiap "kerugian" lahiriah, ada hikmah dan rencana Allah yang jauh lebih besar dan indah. Ketaatan, kesabaran, dan kepercayaan penuh kepada Allah akan selalu membuahkan hasil terbaik, meski jalannya tidak selalu sesuai dengan harapan atau logika manusia.
PENUTUP & DOA
Wahai jiwa-jiwa yang haus akan kebenaran, biarlah kisah Hudaibiyah menjadi lentera di setiap persimpangan hidup. Ketika badai ujian menerpa, ketika harapan seolah pupus, ingatlah betapa Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat teguh dalam kesabaran, meski hati mereka tercabik oleh pedihnya perjanjian. Mereka menyerahkan segala urusan kepada Allah, dan Allah pun membalasnya dengan kemenangan yang tak terduga.
Ya Allah, Rabb semesta alam, berikanlah kami kesabaran seperti kesabaran Nabi-Mu di Hudaibiyah. Kuatkanlah iman kami agar senantiasa taat pada perintah-Mu, meskipun akal dan nafsu kami memberontak. Tunjukkanlah kepada kami hikmah di balik setiap takdir-Mu, dan jadikanlah kami hamba-hamba yang selalu berhusnuzan kepada-Mu. Limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, dan para sahabatnya yang mulia, yang telah mengajarkan kami arti keteguhan dan pengorbanan. Amin.
