Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar: Menjaga Lisan dan Pandangan Mata

Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar: Menjaga Lisan dan Pandangan Mata

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dzat yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua. Hanya karena izin dan kasih sayang-Nya, kita dapat kembali berkumpul di majelis yang penuh berkah ini, di bulan suci Ramadhan yang mulia.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kepada keluarga beliau, para sahabatnya, serta seluruh umatnya yang istiqamah menjalankan sunnahnya hingga akhir zaman. Semoga kita semua termasuk di antara mereka yang mendapatkan syafaat beliau di hari kiamat kelak. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Hadirin Jamaah Rahimakumullah,
Kaum Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan Allah,

Bulan Ramadhan ini adalah bulan istimewa. Bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan. Kita semua sedang menunaikan ibadah puasa, menahan diri dari makan dan minum sejak fajar hingga terbenam matahari. Sebuah rutinitas tahunan yang agung, yang Allah wajibkan kepada kita.

Namun, pernahkah kita merenung, apakah puasa kita hanya sebatas menahan lapar dan dahaga saja? Apakah nilai puasa kita akan sempurna jika hanya perut yang kosong, sementara anggota tubuh lainnya justru “berpesta” dengan maksiat?

Mari kita dalami hakikat puasa sejati, agar Ramadhan kita tahun ini lebih bermakna dan membawa perubahan yang hakiki dalam diri kita.

1. Hakikat Puasa Sejati: Lebih dari Sekadar Lapar dan Dahaga

Saudaraku seiman,
Puasa adalah madrasah, sekolah kehidupan. Tujuan utamanya, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Tujuan puasa adalah mencapai takwa. Dan takwa itu bukan hanya urusan perut. Takwa adalah perbuatan hati, lisan, dan seluruh anggota badan. Jika puasa hanya diartikan sebagai menahan lapar dan dahaga, maka kita akan kehilangan esensinya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak mendapatkan dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah)

Mengapa demikian? Karena mereka hanya menahan perut, tapi tidak menahan lisan, tidak menahan pandangan, tidak menahan telinga, dan tidak menahan anggota badan lainnya dari hal-hal yang dilarang Allah.

Ibarat sebuah mobil mewah yang kinclong dari luar, mesinnya bersih, namun bannya kempes. Apakah mobil itu bisa berjalan optimal? Tentu tidak. Begitulah puasa kita. Perut sudah menahan, tapi jika lisan dan pandangan mata kita masih liar, masih melakukan hal-hal yang dilarang, maka puasa kita menjadi pincang, tidak sempurna.

2. Menjaga Lisan: Gerbang Kebaikan dan Kehancuran

Hadirin yang dirahmati Allah,
Lisan adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada kita. Dengan lisan, kita bisa berzikir, membaca Al-Qur’an, berdakwah, menasihati, dan mengucapkan kebaikan. Namun, dengan lisan pula, kita bisa terjatuh dalam dosa besar seperti ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), dusta, caci maki, bahkan sumpah palsu.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini adalah prinsip emas bagi seorang Muslim, apalagi di bulan Ramadhan. Berkata baik itu berpahala, dan diam dari keburukan itu lebih baik daripada berkata buruk.

Pernah suatu ketika, ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah, “Amalan apa yang paling berat timbangannya di hari kiamat?” Rasulullah menjawab, “Akhlak yang baik.” Kemudian sahabat itu bertanya lagi, “Dan amalan apa yang paling banyak menjerumuskan orang ke neraka?” Rasulullah menjawab, “Lisan dan kemaluan.”

Bayangkan, betapa seringnya kita tanpa sadar, saat berkumpul, obrolan kita bergeser menjadi ghibah. Menceritakan aib orang lain, bahkan yang belum tentu benar. Atau mengeluh tentang ini dan itu, padahal Allah sedang menguji kita.

Mari kita jadikan bulan Ramadhan ini sebagai momentum untuk “berpuasa lisan”. Jika kita tidak bisa berkata baik, maka lebih baik diam. Hentikan ghibah, jauhi perkataan kotor, dan biasakan berzikir, beristighfar, serta membaca Al-Qur’an.

3. Menjaga Pandangan Mata: Jendela Hati

Saudaraku yang mulia,
Selain lisan, anggota tubuh lain yang sangat vital untuk dijaga adalah mata. Mata adalah jendela hati. Apa yang kita lihat, akan masuk ke dalam hati kita, memengaruhi pikiran, perasaan, dan bahkan tindakan kita.

 

Rindu Baitullah? Wujudkan Bersama Kami

Kami siap mendampingi perjalanan ibadah Anda dengan bimbingan penuh dan fasilitas nyaman, agar Anda bisa fokus bermunajat dan beribadah.

 

📞 Hubungi Kami

 

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surah An-Nur ayat 30:
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

Dan juga dalam ayat 31 untuk kaum wanita:
“Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…”

Ayat ini secara jelas memerintahkan kita untuk menundukkan pandangan. Di era digital saat ini, tantangan menjaga pandangan mata jauh lebih besar. Berapa banyak dari kita yang tanpa sadar, atau bahkan sengaja, melihat hal-hal yang tidak pantas di media sosial, di televisi, atau di jalanan?

Seorang ulama pernah mengatakan, “Pandangan mata itu adalah panah beracun dari iblis.” Sekali pandangan liar itu masuk, ia akan mengotori hati, membangkitkan syahwat, dan bahkan mendorong pada perbuatan dosa yang lebih besar.

Mari kita latih mata kita untuk “berpuasa pandangan”. Hindari melihat hal-hal yang diharamkan Allah. Gunakan mata kita untuk membaca Al-Qur’an, melihat keindahan alam ciptaan Allah, melihat wajah orang tua kita dengan penuh kasih sayang, atau melihat ilmu yang bermanfaat.

Hadirin Jamaah Rahimakumullah,

Mari kita renungkan bersama. Jika puasa kita hanya sebatas menahan lapar dan dahaga, sementara lisan kita masih kotor, dan pandangan mata kita masih liar, maka apa bedanya puasa kita dengan diet biasa? Apa bedanya dengan orang yang tidak berpuasa tapi kebetulan sedang tidak nafsu makan?

Puasa adalah latihan total untuk mengendalikan diri. Latihan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bertakwa. Jangan biarkan Ramadhan ini berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas kebaikan yang mendalam dalam diri kita.

Mulailah dari sekarang. Perhatikan setiap perkataan yang keluar dari lisan kita. Apakah itu baik, atau lebih baik diam? Perhatikan setiap pandangan mata kita. Apakah itu halal, atau haram?

Jika kita mampu menjaga lisan dan pandangan mata kita di bulan Ramadhan ini, insya Allah kebiasaan baik itu akan terus terbawa setelah Ramadhan. Hati kita akan menjadi lebih bersih, jiwa kita akan lebih tenang, dan iman kita akan semakin kuat.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerima puasa kita, ibadah kita, dan seluruh amal shalih kita di bulan Ramadhan ini. Semoga kita semua keluar dari Ramadhan ini sebagai pribadi yang lebih bertakwa, pribadi yang lisan dan pandangan matanya terjaga.

Mari kita tutup kultum singkat ini dengan memohon ampunan dan rahmat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Astaghfirullahal ‘adzim, alladzi laa ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atubu ilaih.
Ya Allah, ampunilah segala dosa dan kekhilafan kami.
Ya Allah, bimbinglah hati, lisan, dan pandangan mata kami agar senantiasa berada di jalan-Mu yang lurus.
Ya Allah, terimalah puasa kami, shalat kami, sedekah kami, dan seluruh amal ibadah kami.
Ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang bertakwa, yang senantiasa menjaga amanah-Mu.
Ya Allah, berikanlah kami kekuatan untuk istiqamah dalam kebaikan setelah Ramadhan ini.
Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzaban naar.

Wabillahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Leave a Comment