Tata Cara Haji Tamattu

Haji Tamattu adalah salah satu jenis pelaksanaan ibadah haji yang paling banyak dipilih oleh jamaah dari luar Makkah, termasuk Indonesia. Prosedur ini memungkinkan jamaah untuk menunaikan ibadah umrah terlebih dahulu, kemudian bertahallul (melepas ihram), dan setelah itu berihram kembali untuk melaksanakan ibadah haji pada musim yang sama. Tata cara ini dilandasi oleh berbagai dalil syar’i, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Bidayatul Mujtahid Juz 1 Halaman 688.

Pengertian dan Hukum Dasar Haji Tamattu

Haji Tamattu secara bahasa berarti bersenang-senang atau bersantai, karena jamaah dapat menikmati jeda waktu antara pelaksanaan umrah dan haji tanpa terikat larangan ihram. Secara syar’i, Haji Tamattu adalah melaksanakan ibadah umrah pada bulan-bulan haji (Syawal, Dzulqa’dah, 10 hari pertama Dzulhijjah), kemudian bertahallul, dan pada tahun yang sama melaksanakan ibadah haji.

Hukum melaksanakan Haji Tamattu adalah mubah (dibolehkan) dan merupakan salah satu dari tiga jenis haji (selain Ifrad dan Qiran). Namun, bagi pelaksananya, wajib membayar Dam (denda) berupa menyembelih seekor kambing atau sepertujuh sapi/unta, atau berpuasa 10 hari (3 hari di Makkah dan 7 hari setelah kembali ke tanah air) jika tidak mampu menyembelih.

Tata Cara Pelaksanaan Haji Tamattu

Berikut adalah urutan pelaksanaan Haji Tamattu secara runtut:

A. Pelaksanaan Ibadah Umrah (Bagian Tamattu’)

  1. Niat dan Ihram Umrah:

    • Dari miqat, jamaah mandi, memakai pakaian ihram, dan berniat umrah.
    • Mengucapkan talbiyah: "Labbaikallahumma Umratan…"
    • Dalil: Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu disertai dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya." (HR. Bukhari dan Muslim).
  2. Thawaf Umrah:

    • Tujuh putaran mengelilingi Ka’bah, dimulai dan diakhiri di Hajar Aswad.
    • Tiga putaran pertama lari-lari kecil (ramal) bagi laki-laki jika memungkinkan, empat putaran berikutnya berjalan biasa.
    • Dalil: Allah berfirman dalam QS. Al-Hajj: 29, "…dan hendaklah mereka melakukan thawaf di Baitullah yang tua itu (Ka’bah)."
  3. Sa’i Umrah:

    • Berjalan atau berlari kecil antara bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali, dimulai dari Safa dan berakhir di Marwah.
    • Dalil: Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dengan Safa, lalu naik ke atasnya hingga melihat Ka’bah, kemudian bertakbir, bertahlil, dan berdoa. Beliau melakukan itu tiga kali. Kemudian turun menuju Marwah…" (HR. Muslim).
  4. Tahallul Umrah:

    • Mencukur atau memendekkan rambut kepala. Bagi laki-laki disunnahkan mencukur gundul, bagi wanita cukup memotong ujung rambut sepanjang satu ruas jari.
    • Dengan tahallul, jamaah sudah terbebas dari larangan ihram dan bisa beraktivitas normal hingga tiba waktu haji.
    • Dalil: Allah berfirman dalam QS. Al-Fath: 27, "…kamu benar-benar akan mencukur rambut kepala kamu dan mengguntingnya…"

B. Pelaksanaan Ibadah Haji (Bagian Tamattu’)

  1. Ihram Haji (8 Dzulhijjah):

    • Pada tanggal 8 Dzulhijjah (Hari Tarwiyah), jamaah kembali mandi, memakai pakaian ihram, dan berniat haji dari tempat tinggalnya di Makkah atau hotel.
    • Mengucapkan talbiyah: "Labbaikallahumma Hajjan…"
    • Berangkat menuju Mina.
  2. Wukuf di Arafah (9 Dzulhijjah):

    • Puncak ibadah haji. Jamaah berada di Padang Arafah mulai dari tergelincir matahari (Dzuhur) hingga terbenam matahari.
    • Memperbanyak doa, dzikir, dan istighfar.
    • Dalil: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Haji adalah Arafah." (HR. Tirmidzi).
  3. Mabit di Muzdalifah (Malam 10 Dzulhijjah):

    • Setelah matahari terbenam di Arafah, jamaah bergerak menuju Muzdalifah.
    • Mabit (bermalam) di Muzdalifah sejenak setelah tengah malam, mengumpulkan kerikil untuk melontar jumrah.
  4. Melontar Jumrah Aqabah (10 Dzulhijjah):

    • Setelah dari Muzdalifah, jamaah menuju Mina untuk melontar Jumrah Aqabah sebanyak 7 kerikil.
  5. Tahallul Awal (10 Dzulhijjah):

    • Setelah melontar Jumrah Aqabah, jamaah menyembelih Dam (jika mampu), kemudian mencukur atau memendekkan rambut.
    • Dengan tahallul awal, jamaah sudah boleh melepas pakaian ihram dan terbebas dari sebagian larangan ihram, kecuali berhubungan suami istri.
  6. Thawaf Ifadah (10-12 Dzulhijjah):

    • Thawaf rukun haji, dilakukan di Ka’bah.
    • Dalil: Sama dengan dalil thawaf umrah.
  7. Sa’i Haji (Jika Belum Sa’i Bersamaan Umrah):

    • Jika jamaah belum melakukan sa’i setelah thawaf qudum atau thawaf umrah, maka sa’i dilakukan setelah thawaf ifadah.
    • Dalil: Sama dengan dalil sa’i umrah.
  8. Mabit di Mina (Malam 11, 12 Dzulhijjah):

    • Bermalam di Mina untuk persiapan melontar jumrah.
  9. Melontar Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah (11 & 12 Dzulhijjah):

    • Pada tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah, melontar ketiga jumrah (Ula, Wustha, Aqabah) masing-masing 7 kerikil.
  10. Tahallul Tsani (Setelah Selesai Melontar Jumrah):

    • Setelah melontar jumrah pada hari kedua tasyriq (12 Dzulhijjah) dan berencana pulang (nafar awwal), atau pada hari ketiga tasyriq (13 Dzulhijjah) (nafar tsani), jamaah telah sempurna tahallulnya dan terbebas dari semua larangan ihram.
  11. Thawaf Wada’ (Sebelum Meninggalkan Makkah):

    • Thawaf perpisahan sebagai penghormatan terakhir kepada Baitullah sebelum meninggalkan Makkah.
    • Dalil: Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar akhir dari apa yang dilakukan seseorang di Makkah adalah thawaf di Baitullah, kecuali bagi wanita haid." (HR. Bukhari dan Muslim).

Tabel Panduan Praktis Urutan Haji Tamattu

Berikut adalah flowchart urutan pelaksanaan Haji Tamattu yang praktis untuk jamaah:

Langkah / PerkaraKeterangan / HukumTips Praktis
Fase Umrah (Bagian Tamattu’)
1. Ihram UmrahNiat dari Miqat, pakai pakaian ihram.Mandi bersih, niat tulus, perbanyak talbiyah.
2. Thawaf Umrah7 putaran Ka’bah.Jaga wudhu, fokus doa, hindari desakan.
3. Sa’i Umrah7 kali antara Safa-Marwah.Siapkan fisik, minum air zamzam, perbanyak dzikir.
4. Tahallul UmrahCukur/potong rambut.Laki-laki gundul lebih afdhal, wanita cukup potong ujung.
Jeda (Bebas Larangan Ihram)Waktu antara Umrah & Haji.Manfaatkan untuk istirahat, ibadah di Masjidil Haram.
Fase Haji (Bagian Tamattu’)
5. Ihram Haji (8 Dzulhijjah)Niat dari tempat tinggal di Makkah, pakai pakaian ihram.Mandi bersih, niat haji, berangkat ke Mina.
6. Wukuf Arafah (9 Dzulhijjah)Berada di Arafah dari Dzuhur-Maghrib.Puncak haji, perbanyak doa & istighfar, jaga kondisi.
7. Mabit Muzdalifah (Malam 10 Dzulhijjah)Bermalam sejenak, kumpulkan kerikil.Istirahat cukup, siapkan kerikil secukupnya.
8. Lontar Jumrah Aqabah (10 Dzulhijjah)7 kerikil di Jumrah Aqabah.Antre tertib, jangan terburu-buru, jaga emosi.
9. Tahallul Awal (10 Dzulhijjah)Sembelih Dam (jika mampu), cukur/potong rambut.Setelah ini boleh lepas ihram, kecuali hubungan suami istri.
10. Thawaf Ifadah (10-12 Dzulhijjah)Thawaf rukun haji.Lakukan saat kondisi tidak terlalu ramai jika memungkinkan.
11. Sa’i Haji (jika belum)7 kali antara Safa-Marwah.Jika sudah sa’i saat umrah, tidak perlu lagi.
12. Mabit Mina (Malam 11, 12 Dzulhijjah)Bermalam di Mina.Jaga kesehatan, istirahat cukup di tenda.
13. Lontar Jumrah (11 & 12 Dzulhijjah)Masing-masing 7 kerikil di Ula, Wustha, Aqabah.Lontar sesuai waktu yang dianjurkan, hindari waktu padat.
14. Tahallul TsaniSelesai seluruh rukun & wajib haji.Semua larangan ihram sudah gugur.
15. Thawaf Wada’Thawaf perpisahan sebelum meninggalkan Makkah.Lakukan saat akan pulang, tidak ada lagi ibadah lain setelahnya.

Tips Khusus untuk Jamaah Indonesia

Sebagai Muthawif Senior, saya memiliki beberapa tips praktis untuk jamaah Indonesia yang melaksanakan Haji Tamattu:

  1. Jaga Kesehatan Sejak Awal: Perjalanan haji sangat menguras fisik. Pastikan kondisi prima sejak di tanah air. Banyak minum air putih, konsumsi vitamin, dan istirahat cukup.
  2. Manfaatkan Jeda Antara Umrah dan Haji: Setelah tahallul umrah, jamaah memiliki beberapa hari bebas ihram. Gunakan waktu ini untuk beristirahat total, memulihkan stamina, dan mempersiapkan diri untuk puncak haji yang lebih berat. Jangan terlalu banyak melakukan ibadah sunnah yang menguras tenaga jika merasa lelah.
  3. Pahami Jadwal Pergerakan: Selalu ikuti arahan pembimbing dan ketua rombongan. Jadwal pergerakan dari Makkah-Arafah-Muzdalifah-Mina sangat padat dan terstruktur. Keterlambatan sedikit bisa menyebabkan kesulitan.
  4. Siapkan Mental untuk Keramaian: Puncak haji akan sangat padat. Bersabar, saling membantu, dan jangan panik adalah kunci. Fokus pada ibadah dan hindari hal-hal yang memicu emosi.
  5. Bawa Perlengkapan Pribadi yang Esensial: Masker, hand sanitizer, topi/payung kecil, semprotan air, obat-obatan pribadi, dan sandal yang nyaman sangat penting.
  6. Komunikasi dan Informasi: Pastikan selalu ada cara untuk berkomunikasi dengan rombongan. Hafalkan nomor kontak pembimbing dan hotel. Pahami titik kumpul jika terpisah.
  7. Sembelih Dam di Waktu yang Tepat: Konsultasikan dengan pembimbing mengenai pelaksanaan Dam. Umumnya, Dam bisa diwakilkan kepada lembaga resmi atau melalui peternakan yang ditunjuk.

Kesimpulan dan Doa Khusus

Haji Tamattu adalah pilihan yang sangat baik bagi jamaah yang ingin menunaikan ibadah umrah dan haji dalam satu rangkaian perjalanan, dengan jeda yang memungkinkan pemulihan fisik. Dengan persiapan yang matang dan pemahaman yang benar tentang setiap tahapan, insya Allah ibadah haji Anda akan menjadi haji yang mabrur.

Doa Khusus: "Allahumma ij’al hajjana hajjan mabruran, wa sa’yana sa’yan masykuran, wa dzanbana dzanban maghfuran, wa ‘amalana ‘amalan maqbulan, wa tijarotana tijarotan lan tabur." (Ya Allah, jadikanlah haji kami haji yang mabrur, sa’i kami sa’i yang disyukuri, dosa kami dosa yang diampuni, amal kami amal yang diterima, dan perniagaan kami perniagaan yang tidak akan merugi.)

Sudah Paham Ilmunya?

Sekarang Cari Travelnya yang Amanah

Cek Rekomendasi Perjalanan Umroh dengan 5 Pasti di Umroh5.com

✅ Pasti Travelnya   ✅ Pasti Jadwalnya   ✅ Pasti Terbangnya
✅ Pasti Hotelnya   ✅ Pasti Visanya

Leave a Comment