Mencium Hajar Aswad merupakan salah satu sunnah yang sangat dianjurkan dalam ibadah thawaf, sebagai bentuk ittiba’ (mengikuti) Rasulullah ﷺ. Namun, dalam kondisi padat, syariat memberikan kemudahan dengan cukup memberi isyarat dari jauh. Penting untuk memahami etika dan tata caranya agar ibadah tetap sah dan meraih keutamaan, sebagaimana dijelaskan dalam Fathul Baari 09 Hal 122.
Pengertian & Hukum Dasar
Hajar Aswad adalah batu mulia berwarna hitam kemerahan yang terletak di salah satu sudut Ka’bah. Menciumnya atau mengusapnya adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan) bagi mereka yang mampu dan tidak menimbulkan mudarat atau menyakiti orang lain. Ini adalah bentuk penghormatan dan mengikuti sunnah Nabi Muhammad ﷺ, bukan penyembahan batu.
Tata Cara & Dalil
Pelaksanaan sunnah mencium Hajar Aswad memiliki beberapa tingkatan sesuai kondisi jamaah:
Mencium Langsung:
- Jika kondisi memungkinkan dan tidak berdesakan, dekati Hajar Aswad.
- Sentuh dengan tangan kanan, lalu cium. Jika tidak bisa mencium, cukup sentuh dan cium tangan yang menyentuh Hajar Aswad.
- Ucapkan "Bismillahi Allahu Akbar" atau "Allahu Akbar" saat menyentuh atau menciumnya.
Mengusap dengan Tangan/Tongkat:
- Jika sulit mencium langsung karena padat namun masih bisa menjangkau, usap Hajar Aswad dengan tangan kanan atau benda seperti tongkat.
- Setelah mengusap, cium tangan atau benda yang digunakan untuk mengusap tersebut.
- Ucapkan "Bismillahi Allahu Akbar" atau "Allahu Akbar".
Memberi Isyarat dari Jauh:
- Jika kondisi sangat padat sehingga tidak memungkinkan untuk mendekat atau menyentuh, cukup berdiri di hadapan Hajar Aswad (atau sejajar dengannya saat melewati) dan beri isyarat dengan tangan kanan ke arahnya.
- Setelah memberi isyarat, cium tangan yang digunakan untuk memberi isyarat tersebut.
- Ucapkan "Bismillahi Allahu Akbar" atau "Allahu Akbar".
Dalil Naqli:
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: "Aku melihat Rasulullah ﷺ ketika beliau tiba di Makkah, beliau mencium rukun (Hajar Aswad) pada putaran pertama thawafnya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mencium Hajar Aswad seraya berkata: "Sungguh aku tahu engkau hanyalah batu yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak pula memberi mudarat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah ﷺ menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu." (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menegaskan bahwa tindakan ini adalah semata-mata ittiba’ kepada Nabi ﷺ.
| Tabel Panduan Praktis | Langkah / Perkara | Keterangan / Hukum | Tips Praktis |
|---|---|---|---|
| Mencium Hajar Aswad | Sunnah muakkadah jika memungkinkan tanpa mudarat. | Lakukan saat sepi (dini hari/setelah shalat subuh), jaga adab, jangan dorong-dorongan. | |
| Mengusap Hajar Aswad | Sunnah jika tidak bisa mencium langsung namun bisa menjangkau. | Gunakan tangan kanan atau tongkat, lalu cium tangan/tongkat tersebut. Hindari memaksa. | |
| Memberi Isyarat | Sunnah jika kondisi sangat padat dan tidak bisa mendekat. | Beri isyarat dengan tangan kanan dari jauh, lalu cium tangan. Ucapkan "Allahu Akbar". | |
| Berdesakan/Mendorong | Haram jika menyakiti orang lain. | Hindari memaksakan diri, utamakan keselamatan diri dan orang lain. Cukup beri isyarat. | |
| Mengucapkan Niat Khusus | Tidak ada dalilnya. | Cukup niat mengikuti sunnah Nabi ﷺ dan mengucapkan "Allahu Akbar". |
Tips Jamaah Indonesia
- Prioritaskan Keselamatan: Area Hajar Aswad seringkali sangat padat, terutama pada musim haji atau umrah puncak. Jangan memaksakan diri untuk mencium jika berisiko terjepit, terdorong, atau menyakiti diri sendiri dan orang lain. Mengisyaratkan dari jauh sudah mencukupi dan berpahala.
- Waktu yang Tepat: Jika ingin mencoba mencium, cari waktu-waktu yang relatif sepi seperti dini hari setelah shalat Subuh atau tengah malam menjelang Subuh. Hindari jam-jam sibuk seperti setelah shalat wajib atau saat rombongan besar baru tiba.
- Jaga Kesehatan: Panas dan keramaian dapat menguras energi. Pastikan tubuh fit dan cukup minum sebelum mencoba mendekat. Bagi lansia atau yang memiliki riwayat kesehatan, sangat disarankan untuk cukup memberi isyarat saja.
- Sabar dan Ikhlas: Niatkan semua karena Allah dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Jangan sampai keinginan mencium Hajar Aswad membuat Anda berbuat kasar atau melanggar adab di Tanah Suci.
Kesimpulan & Doa Khusus
Mencium Hajar Aswad adalah sunnah yang mulia, namun syariat Islam sangat memperhatikan kemudahan dan keselamatan umatnya. Jika tidak memungkinkan, memberi isyarat dari jauh sudah cukup dan tetap mendapatkan pahala. Prioritaskan keselamatan dan kenyamanan beribadah Anda serta jamaah lain.
Doa saat melewati Hajar Aswad:
"Bismillahi Allahu Akbar" (Dengan nama Allah, Allah Maha Besar).
Atau doa yang biasa dibaca antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad:
"Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzaban naar." (Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta peliharalah kami dari siksa neraka).
