Tata Cara Melempar Jumrah

Melempar jumrah adalah salah satu rukun wajib dalam ibadah haji, di mana jamaah melontarkan kerikil ke pilar-pilar jumrah sebagai simbol merajam setan dan meneladani Nabi Ibrahim AS. Tata cara pelaksanaannya harus sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad SAW, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Ibanatul Ahkam Juz 2 Hal 607. Memahami prosedur yang benar sangat penting untuk kesempurnaan ibadah haji Anda.

Pengertian & Hukum Dasar Melempar Jumrah

Melempar jumrah adalah ritual melontarkan tujuh butir kerikil ke tiga pilar (Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah) yang dilakukan pada hari raya Idul Adha (10 Dzulhijjah) dan hari-hari Tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah). Hukum melempar jumrah adalah wajib bagi jamaah haji. Meninggalkannya tanpa udzur syar’i akan dikenakan dam (denda) berupa menyembelih seekor kambing. Ritual ini melambangkan penolakan terhadap godaan setan, sebagaimana Nabi Ibrahim AS merajam setan yang menghalanginya saat akan menyembelih putranya, Ismail AS.

Tata Cara & Dalil Melempar Jumrah (Step-by-Step)

Pelaksanaan melempar jumrah memiliki urutan dan waktu yang spesifik:

  • Hari ke-10 Dzulhijjah (Hari Raya Idul Adha):
    • Setelah tiba di Mina dari Muzdalifah, jamaah langsung menuju Jumrah Aqabah.
    • Lontarkan 7 butir kerikil ke Jumrah Aqabah saja. Setiap lontaran disertai takbir "Bismillahi Allahu Akbar".
    • Waktu afdal: Setelah terbit matahari hingga tergelincir matahari (Zuhur). Boleh hingga malam hari jika berdesakan.
    • Setelah melempar jumrah, jamaah mencukur rambut (tahallul awal), menyembelih qurban (bagi yang haji tamattu/qiran), lalu kembali ke Makkah untuk Tawaf Ifadah.
  • Hari ke-11 Dzulhijjah (Hari Tasyriq Pertama):
    • Lontarkan 7 butir kerikil ke Jumrah Ula, lalu bergeser sedikit dan berdoa menghadap kiblat.
    • Kemudian, lontarkan 7 butir kerikil ke Jumrah Wustha, lalu bergeser sedikit dan berdoa menghadap kiblat.
    • Terakhir, lontarkan 7 butir kerikil ke Jumrah Aqabah, tanpa berhenti untuk berdoa setelahnya.
    • Total 21 kerikil.
    • Waktu afdal: Setelah tergelincir matahari (Zuhur) hingga terbit fajar keesokan harinya.
  • Hari ke-12 Dzulhijjah (Hari Tasyriq Kedua):
    • Lakukan urutan yang sama seperti hari ke-11 Dzulhijjah: Jumrah Ula (7 kerikil), Wustha (7 kerikil), dan Aqabah (7 kerikil). Total 21 kerikil.
    • Waktu afdal: Setelah tergelincir matahari (Zuhur) hingga terbit fajar keesokan harinya.
    • Bagi jamaah yang ingin Nafar Awal (meninggalkan Mina), harus sudah keluar dari Mina sebelum matahari terbenam pada hari ini.
  • Hari ke-13 Dzulhijjah (Hari Tasyriq Ketiga – bagi yang Nafar Tsani):
    • Lakukan urutan yang sama seperti hari ke-11 dan ke-12 Dzulhijjah: Jumrah Ula (7 kerikil), Wustha (7 kerikil), dan Aqabah (7 kerikil). Total 21 kerikil.
    • Waktu afdal: Setelah tergelincir matahari (Zuhur) hingga terbit fajar keesokan harinya.
    • Bagi jamaah yang Nafar Tsani, harus sudah keluar dari Mina sebelum matahari terbenam pada hari ini.

Dalil Naqli:
Pelaksanaan melempar jumrah ini didasarkan pada sabda Nabi Muhammad SAW, "Ambillah dariku manasik hajimu," (HR. Muslim) yang mengisyaratkan agar umat Islam meniru tata cara haji beliau, termasuk dalam melempar jumrah. Praktik Nabi SAW menunjukkan beliau melempar jumrah sesuai urutan dan jumlah kerikil tersebut.

Tabel Panduan Praktis Melempar Jumrah

Langkah / PerkaraKeterangan / HukumTips Praktis
Posisi BerdiriJumrah Ula & Wustha: Setelah melempar, bergeser sedikit ke depan atau samping, menghadap kiblat, lalu berdoa.Cari posisi aman, jangan terlalu dekat dengan pilar saat berdoa untuk menghindari dorongan jamaah lain.
Jumrah Aqabah: Setelah melempar 7 kerikil, langsung berlalu tanpa berhenti berdoa di lokasi tersebut.Hadap pilar jumrah saat melempar, pastikan kerikil masuk ke lubang penampung.
Cara MelemparLontarkan kerikil satu per satu, bukan sekaligus. Gunakan tangan kanan. Setiap lemparan disertai takbir "Bismillahi Allahu Akbar".Pastikan kerikil yang digunakan adalah kerikil kecil seukuran biji kurma, bukan batu besar.
Jumlah KerikilMasing-masing 7 butir untuk setiap jumrah.Siapkan kerikil yang cukup (minimal 49 butir untuk Nafar Awal, 70 butir untuk Nafar Tsani) sejak dari Muzdalifah.
Waktu MelemparHari ke-10: Setelah terbit matahari hingga tergelincir matahari.Usahakan melempar di pagi hari setelah terbit matahari untuk menghindari kepadatan siang hari.
Hari ke-11, 12, 13: Setelah tergelincir matahari (Zuhur) hingga terbit fajar keesokan harinya.Hindari waktu puncak kepadatan (setelah Zuhur hingga Ashar). Lebih baik melempar di sore hari atau malam hari jika memungkinkan.

Tips Khusus untuk Jamaah Indonesia di Lapangan

  1. Jaga Keselamatan Diri dan Rombongan: Area jumrah sangat padat. Selalu berpegangan tangan dengan rombongan atau gunakan tanda pengenal kelompok. Jangan memaksakan diri jika kondisi terlalu ramai.
  2. Pilih Waktu yang Tepat: Hindari melempar jumrah pada waktu puncak kepadatan, yaitu antara pukul 10.00 hingga 14.00 di hari ke-10, dan setelah Zuhur hingga Ashar di hari-hari Tasyriq. Lebih baik melempar di pagi hari (hari ke-10) atau sore/malam hari (hari Tasyriq) jika kondisi memungkinkan.
  3. Siapkan Kerikil: Kumpulkan kerikil yang cukup dari Muzdalifah. Jangan memungut kerikil di sekitar area jumrah karena dikhawatirkan sudah terkontaminasi najis atau bekas lemparan.
  4. Kondisi Fisik: Jika Anda lansia, sakit, atau memiliki keterbatasan fisik, jangan sungkan untuk meminta bantuan. Melempar jumrah bisa diwakilkan kepada orang lain yang tidak memiliki udzur syar’i. Pastikan yang mewakili sudah selesai melempar untuk dirinya sendiri.
  5. Tetap Fokus: Meskipun berdesakan, usahakan tetap fokus pada niat dan tata cara melempar jumrah yang benar. Jangan terpancing emosi atau melakukan hal-hal yang tidak perlu.

Kesimpulan & Doa Khusus

Melempar jumrah adalah simbol penegasan iman dan perlawanan terhadap bisikan setan. Laksanakanlah dengan penuh kekhusyukan dan kesabaran, mengikuti sunnah Nabi SAW. Semoga setiap lemparan kerikil kita menjadi penolak bala dan penghapus dosa.

Doa yang bisa dibaca saat melempar jumrah:
"بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ، رَجْمًا لِلشَّيَاطِينِ وَرِضًا لِلرَّحْمَنِ"
(Bismillahi Allahu Akbar, Rajman lisy-syayathin wa ridhan lir-Rahman)
Artinya: "Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, sebagai rajam bagi setan-setan dan keridhaan bagi Tuhan Yang Maha Pengasih."

Sudah Paham Ilmunya?

Sekarang Cari Travelnya yang Amanah

Cek Rekomendasi Perjalanan Umroh dengan 5 Pasti di Umroh5.com

✅ Pasti Travelnya   ✅ Pasti Jadwalnya   ✅ Pasti Terbangnya
✅ Pasti Hotelnya   ✅ Pasti Visanya

Leave a Comment