Menyentuh Rukun Yamani saat tawaf adalah sunnah Nabi Muhammad SAW yang dianjurkan bagi jamaah yang mampu melaksanakannya tanpa berdesakan. Tata caranya cukup dengan mengusapnya menggunakan tangan kanan, namun tidak disunnahkan untuk menciumnya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Fathul Baari 09 Hal 116.
Pengertian & Hukum Dasar
Rukun Yamani adalah salah satu sudut Ka’bah yang terletak sebelum Hajar Aswad. Sudut ini dinamakan Yamani karena menghadap ke arah Yaman. Hukum menyentuh Rukun Yamani adalah sunnah, bukan wajib atau rukun tawaf. Artinya, jika tidak dilakukan, tawaf tetap sah, namun jika dilakukan akan mendapatkan pahala tambahan. Keutamaan menyentuh Rukun Yamani adalah sebagai bentuk ittiba’ (mengikuti) sunnah Rasulullah SAW.
Tata Cara & Dalil
Pelaksanaan menyentuh Rukun Yamani dilakukan pada setiap putaran tawaf, kecuali pada putaran pertama yang dimulai dari Hajar Aswad. Berikut adalah langkah-langkahnya:
- Dekati Rukun Yamani: Saat Anda mendekati sudut Ka’bah yang merupakan Rukun Yamani, usahakan untuk mendekat ke dinding Ka’bah.
- Sentuh dengan Tangan Kanan: Jika memungkinkan dan tidak menimbulkan desakan yang membahayakan diri sendiri atau orang lain, sentuhlah Rukun Yamani dengan telapak tangan kanan Anda.
- Tidak Mencium: Setelah menyentuh, jangan mencium tangan atau Rukun Yamani. Cukup sentuh saja.
- Jika Tidak Mampu: Apabila kondisi sangat padat sehingga sulit untuk menyentuh Rukun Yamani tanpa berdesakan, maka cukup melambaikan tangan ke arahnya tanpa mencium tangan, atau bahkan tidak melakukan apa-apa dan melanjutkan tawaf. Tidak ada paksaan untuk menyentuhnya.
Dalil:
Praktik menyentuh Rukun Yamani ini didasarkan pada sunnah Nabi Muhammad SAW. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar RA bahwa Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan untuk menyentuh Rukun Yamani dan Hajar Aswad setiap kali tawaf. Namun, tidak ada riwayat yang menyebutkan beliau mencium Rukun Yamani, berbeda dengan Hajar Aswad.
Tabel Panduan Praktis: Perbedaan Perlakuan Rukun Yamani dan Hajar Aswad
| Langkah / Perkara | Rukun Yamani | Hajar Aswad | Tips Praktis |
|---|---|---|---|
| Menyentuh | Sunnah, dengan tangan kanan. | Sunnah, dengan tangan kanan. | Prioritaskan keselamatan, jangan paksakan jika berdesakan. |
| Mencium | Tidak disunnahkan. | Sunnah, jika memungkinkan. | Jika tidak bisa mencium, cukup sentuh lalu cium tangan, atau lambaikan tangan. |
| Melambaikan Tangan | Jika tidak mampu menyentuh, cukup lambaikan. | Jika tidak mampu mencium/menyentuh, lambaikan dan cium tangan. | Lakukan ini sebagai pengganti jika kondisi tidak memungkinkan. |
| Doa Khusus | Doa umum tawaf, atau doa antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad. | Doa khusus saat mencium/menyentuh, atau doa umum tawaf. | Antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, disunnahkan membaca doa "Rabbana atina fid dunya hasanah…" |
Tips Jamaah Indonesia
- Prioritaskan Keselamatan: Area Rukun Yamani bisa sangat padat, terutama pada jam-jam sibuk. Jangan memaksakan diri untuk menyentuhnya jika berisiko terjatuh atau melukai orang lain. Keselamatan adalah yang utama.
- Jaga Adab: Hindari mendorong atau menyikut jamaah lain. Ingatlah bahwa semua sedang beribadah.
- Fokus pada Ibadah: Jika tidak bisa menyentuh, jangan berkecil hati. Fokus pada doa dan dzikir Anda selama tawaf. Pahala tidak berkurang hanya karena tidak bisa menyentuh Rukun Yamani.
- Doa Antara Dua Rukun: Manfaatkan waktu antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad untuk memperbanyak doa "Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzaban naar." Doa ini sangat dianjurkan di posisi tersebut.
- Perhatikan Lansia/Anak-anak: Jika Anda membawa lansia atau anak-anak, dampingi mereka dan pastikan mereka tidak terjebak dalam kerumunan. Lebih baik tidak menyentuh Rukun Yamani daripada mengambil risiko.
Kesimpulan & Doa Khusus
Menyentuh Rukun Yamani adalah sunnah yang mulia, namun bukan kewajiban. Lakukanlah jika kondisi memungkinkan dan aman. Jika tidak, cukup lanjutkan tawaf Anda dengan penuh kekhusyukan. Yang terpenting adalah esensi ibadah tawaf itu sendiri.
Doa yang dianjurkan antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad:
"Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzaban naar."
(Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.)
