Saat memulai ibadah umrah atau haji, jamaah pria wajib mematuhi larangan memakai pakaian berjahit selama dalam keadaan ihram. Aturan ini merupakan bagian penting dari tata cara ihram yang harus dipahami dan dilaksanakan dengan benar agar ibadah sah dan sempurna, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Bidayatul Mujtahid 1 Hal 675. Pakaian ihram bagi pria hanya terdiri dari dua lembar kain tanpa jahitan.
Pengertian & Hukum Dasar
Pakaian berjahit dalam konteks ihram adalah segala jenis busana yang dibuat dengan jahitan, baik itu dijahit tangan maupun mesin, yang membentuk bagian tubuh seperti baju, celana, kemeja, atau sarung yang sudah dijahit. Larangan ini juga mencakup pakaian dalam seperti celana dalam dan kaos dalam. Hukum mengenakan pakaian berjahit bagi pria saat ihram adalah haram dan termasuk dalam larangan ihram yang jika dilanggar secara sengaja dapat dikenakan denda (dam). Mematuhi larangan ini adalah salah satu wajib ihram yang harus dipenuhi.
Tata Cara & Dalil
Pelaksanaan ihram bagi pria mengharuskan penggantian pakaian sehari-hari dengan dua lembar kain ihram tanpa jahitan. Berikut adalah tata caranya:
- Persiapan Pakaian Ihram: Sebelum berniat ihram di miqat, jamaah pria dianjurkan untuk mandi sunnah ihram, membersihkan diri, dan mengenakan dua lembar kain ihram. Satu lembar untuk bagian bawah (izhar) dan satu lembar untuk bagian atas (rida’).
- Memakai Dua Lembar Kain Ihram:
- Izhar: Kain bagian bawah dililitkan dari pinggang hingga menutupi lutut, pastikan terpasang kuat agar tidak mudah lepas.
- Rida’: Kain bagian atas diselampirkan di bahu, menutupi punggung dan dada.
- Memastikan Tidak Ada Jahitan: Periksa kembali seluruh pakaian yang dikenakan, termasuk pakaian dalam, untuk memastikan tidak ada satu pun yang berjahit.
- Larangan Lain yang Terkait: Selain pakaian berjahit, pria juga dilarang memakai penutup kepala yang melekat (seperti peci atau sorban yang dijahit), dan sepatu yang menutupi mata kaki. Sandal jepit atau sandal terbuka diperbolehkan.
Dalil Naqli:
Larangan ini bersandar pada hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau bersabda:
"Janganlah seseorang yang sedang ihram memakai baju, celana, serban, burnus (pakaian bertudung), atau sepatu, kecuali jika tidak mendapatkan sandal, maka boleh memakai sepatu, tetapi hendaklah memotongnya di bawah mata kaki." (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini secara implisit melarang pakaian yang membentuk tubuh dan lazimnya berjahit, menegaskan pentingnya hanya mengenakan kain ihram yang sederhana.
Tabel Panduan Praktis
Berikut adalah daftar ceklis pakaian yang dilarang dan diperbolehkan bagi pria saat ihram:
| Langkah / Perkara | Keterangan / Hukum | Tips Praktis |
|---|---|---|
| Pakaian Dilarang bagi Pria saat Ihram | ||
| Kemeja, Baju Koko, Kaos | Haram | Lepas semua pakaian berjahit sebelum niat ihram di miqat. |
| Celana Panjang/Pendek | Haram | Pastikan hanya memakai kain ihram di bagian bawah. |
| Sarung Berjahit | Haram | Gunakan kain sarung tanpa jahitan yang dililitkan. |
| Pakaian Dalam (Celana dalam, kaos dalam) | Haram | Tidak diperbolehkan sama sekali. |
| Kaos Kaki, Sepatu Menutup Mata Kaki | Haram | Gunakan sandal jepit/terbuka yang tidak menutup mata kaki. |
| Peci, Topi, Sorban Berjahit | Haram | Tidak boleh memakai penutup kepala yang melekat. |
| Pakaian Diperbolehkan bagi Pria saat Ihram | ||
| Kain Ihram (2 lembar) | Wajib | Pilih bahan katun yang menyerap keringat, tidak transparan, dan nyaman. |
| Sandal Jepit/Terbuka | Diperbolehkan | Pastikan nyaman untuk berjalan jauh dan tidak menutup mata kaki. |
| Ikat Pinggang Tanpa Jahitan (Sabuk Ihram) | Diperbolehkan (untuk keamanan) | Pilih yang sederhana, tanpa jahitan, untuk mengamankan kain ihram dan menyimpan barang. |
| Jam Tangan, Kacamata | Diperbolehkan | Tidak termasuk larangan ihram. |
Tips Jamaah Indonesia
Untuk jamaah Indonesia, ada beberapa tips praktis yang bisa diterapkan:
- Pilih Bahan Kain Ihram yang Tepat: Mengingat iklim Arab Saudi yang cenderung panas, pilih kain ihram dari bahan katun yang ringan, menyerap keringat, dan tidak mudah kusut agar tetap nyaman selama beribadah.
- Latih Cara Melilitkan Kain Ihram: Sebelum keberangkatan, latih cara melilitkan kain ihram agar tidak mudah lepas, terutama saat bergerak, duduk, atau di toilet. Ini penting untuk menjaga aurat dan kenyamanan.
- Bawa Sabuk Ihram/Ikat Pinggang Non-Jahit: Sabuk ihram sangat membantu untuk mengamankan kain ihram agar tidak melorot, sekaligus bisa berfungsi sebagai tempat menyimpan paspor, uang, atau ponsel agar aman. Pastikan sabuk tersebut tidak memiliki jahitan yang membentuk kantong atau bagian pakaian.
- Siapkan Cadangan Kain Ihram: Bawa setidaknya satu set cadangan kain ihram untuk berjaga-jaga jika kain utama kotor, basah, atau rusak.
- Jangan Ragu Bertanya: Jika ada keraguan mengenai pakaian atau larangan ihram lainnya, jangan sungkan untuk bertanya kepada Muthawif atau pembimbing ibadah Anda.
Kesimpulan & Doa Khusus
Mematuhi larangan memakai pakaian berjahit bagi pria saat ihram adalah bentuk ketaatan dan kesungguhan kita dalam menjalankan ibadah umrah atau haji. Dengan memahami dan melaksanakan aturan ini dengan benar, kita berharap ibadah kita diterima oleh Allah SWT dan mendapatkan pahala yang berlimpah.
Doa Relevan:
"Allahumma inni uharrimu syar’i wa basyari wa jami’a a’dha’i ‘ala ma harramta ‘alal muhrimi."
(Ya Allah, sesungguhnya aku mengharamkan rambutku, kulitku, dan seluruh anggota tubuhku atas apa yang Engkau haramkan bagi orang yang berihram.)
