Berangkat dari Muzdalifah Setelah Bulan Terbenam

Mabit (bermalam) di Muzdalifah adalah salah satu kewajiban dalam rangkaian ibadah haji dan umrah. Namun, syariat Islam memberikan keringanan (rukhsah) bagi jamaah yang memiliki udzur (halangan), seperti wanita, anak-anak, lansia, atau mereka yang lemah fisik, untuk meninggalkan Muzdalifah lebih awal. Mereka diperbolehkan berangkat setelah tengah malam atau setelah bulan terbenam, sebelum waktu Subuh, menuju Mina. … Read more

Mendahulukan Wanita dan Orang Lemah dari Muzdalifah

Syariat Islam memberikan keringanan (rukhsah) bagi kelompok tertentu, seperti wanita, anak-anak, lansia, dan orang-orang yang lemah fisiknya, untuk meninggalkan Muzdalifah lebih awal sebelum fajar menyingsing. Keringanan ini bertujuan untuk menghindari desakan dan potensi bahaya yang mungkin timbul saat jutaan jamaah bergerak bersamaan setelah fajar. Kebolehan ini merupakan bagian dari kemudahan dalam beribadah haji, sebagaimana dijelaskan … Read more

Hukum Wasiat kepada Ahli Waris

Dalam hukum Islam, wasiat (hibah setelah kematian) yang ditujukan kepada ahli waris secara umum adalah tidak sah dan tidak berlaku, kecuali jika disetujui oleh seluruh ahli waris lainnya setelah pewasiat meninggal dunia. Ketentuan ini merupakan hasil dari pembatalan (mansukh) hukum wasiat umum dalam Al-Qur’an oleh ayat-ayat waris yang lebih spesifik dan hadis Nabi Muhammad SAW, … Read more

Makan Malam di Muzdalifah

Setibanya jamaah di Muzdalifah setelah wukuf di Arafah, prioritas utama adalah menunaikan ibadah shalat Maghrib dan Isya’ secara jamak qashar. Setelah kewajiban shalat ditunaikan, barulah jamaah dapat beristirahat dan menikmati makan malam untuk memulihkan energi. Penjelasan ini sejalan dengan tuntunan manasik yang terdapat dalam Fathul Baari 09 Hal 270, yang menggarisbawahi pentingnya mendahulukan ibadah wajib. … Read more

Waktu Adzan dan Iqamah di Muzdalifah

Di Muzdalifah, jamaah haji/umrah wajib melaksanakan shalat Maghrib dan Isya secara jamak takhir. Ini berarti kedua shalat tersebut digabungkan dan dilaksanakan pada waktu Isya, setelah tiba di Muzdalifah. Pelaksanaannya tanpa adzan, cukup iqamah untuk kedua shalat, diawali Maghrib 3 rakaat, kemudian disambung Isya 2 rakaat. Landasan ini sesuai dengan penjelasan dalam Fathul Baari 09 Hal … Read more

Jamak Shalat di Muzdalifah

Setelah wukuf di Arafah, jamaah haji akan bergerak menuju Muzdalifah pada malam hari untuk mabit (bermalam) sejenak. Di sinilah jamaah wajib melaksanakan shalat Maghrib dan Isya secara jamak takhir. Tata cara ini dilakukan dengan satu kali adzan dan dua kali iqamah, di mana shalat Maghrib tiga rakaat diikuti langsung oleh shalat Isya dua rakaat (qashar) … Read more

Hukum Berjalan Tenang (Sakinah) saat Ifadhah

Berjalan dengan tenang (sakinah) saat melaksanakan Tawaf Ifadhah adalah sebuah anjuran penting dalam manasik haji dan umrah. Hal ini bukan sekadar etika, melainkan sebuah prinsip yang menjaga keselamatan dan kekhusyukan ibadah. Sumber rujukan utama untuk pemahaman ini dapat ditemukan dalam kitab Fathul Baari Jilid 09 Halaman 258, yang menekankan pentingnya menghindari terburu-buru yang dapat membahayakan … Read more

Singgah di Antara Arafah dan Muzdalifah

Setelah selesai wukuf di Arafah, jamaah haji bergerak menuju Muzdalifah. Penting untuk diketahui bahwa shalat Maghrib dan Isya’ tidak dilaksanakan di antara Arafah dan Muzdalifah, melainkan digabungkan (jamak ta’khir) dan diqashar di Muzdalifah. Hal ini sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad SAW, sebagaimana dijelaskan dalam Fathul Baari 09 Hal 256, yang menegaskan bahwa shalat Maghrib dan … Read more

Tata Cara Bertolak dari Arafah (Ifadhah)

Setelah selesai melaksanakan wukuf di Arafah, salah satu tahapan penting dalam ibadah haji adalah bertolak atau ifadhah menuju Muzdalifah. Proses ini merupakan perpindahan massal jamaah haji yang harus dilakukan sesuai sunnah dan dengan penuh ketenangan, sebagaimana dijelaskan dalam Fathul Baari 09 Hal 253. Inti dari ifadhah adalah bergerak dari Arafah menuju Muzdalifah setelah matahari terbenam … Read more

Hukum ‘Azl (Senggama Terputus)

Hukum ‘Azl atau senggama terputus dalam Islam mayoritas ulama (jumhur) menyatakan kebolehannya, meskipun terdapat perbedaan pendapat antara makruh hingga haram bagi sebagian kecil ulama. Penjelasan mengenai berbagai pandangan ini dapat ditemukan dalam kitab-kitab fiqih klasik, termasuk Fathul Baari Jilid 25 Halaman 694 (Source 493), yang mengulas dalil-dalil dan istidlal terkait praktik ini. Definisi & Konsep … Read more